“Christmas means a different thing for a different person”.
Natal memiliki makna yang berbeda untuk orang yang berbeda.
2011 ini adalah Natal ke 7 saya melewatkannya di Kupang-NTT. Suasana Kupang – Yogyakarta memang sangat berbeda menjelang Natal. Keriuhan belanja di Yogyakarta akan sangat terasa saat menjelang Lebaran, sedangkan di Kupang, jalan-jalan utama mulai macet pada jam 9 s.d jam 14, kemudian free dan mulai lagi setelah jam 17. Karena toko2 di Kupang akan rehat pada jam 14-17. Hampir sama dengan di Jakarta, Sejak akhir bulan November, lagu-lagu Natal sudah terdengar, baik di hotel, restoran dan pusat-pusat perbelanjaan. Suasananya memang sangat jauh berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Tapi di Kupang lebih riuh lagi, karena lagu-lagu Natal juga terdengar keras dari dalam bemo(angkutan kota), dan bahkan kios dadakan (penjual kembang api dan petasan yang hanya pakai meja dipinggir jalan), meski hanya kios dadakan, mereka memasang lampu2 disko dan musik dengan speaker besar disamping meja. Semarak natal juga terasa karena hampir disetiap rumah (yang karena kebetulan mayoritas penduduk Kupang adalah Kristiani) ada pohon Natal lengkap dengan hiasan Natal. Orang mulai sibuk berbenah rumah(mengecat rumah, mebel baru sampai gorden dan pot tanaman baru)..
Bagi aktivis Gereja, barangkali Natal berarti melakukan berbagai macam kesibukan, mulai dari menghias Gereja dengan berbagai dekorasi yang indah dan asesoris yang mahal, termasuk menghias pohon terang. Selain itu, ada juga kesibukan paduan suara, latihan drama, latihan menari atau berbagai jenis aktivitas lainnya. Memang, dalam kenyataannya, aktivitas anggota jemaat meningkat tajam selama Desember.
Namun apa artinya semua itu? Menurut pengamatan saya, Natal lebih bernuansa business daripada kerohanian.
Barangkali, untuk seorang anak kecil, Natal berarti hadiah, di mana pada saat Natal, dia selalu mendapatkan barang baru, seperti baju baru, sepatu baru. Tanpa semua itu, rasanya, Natal belum tiba. Hal seperti itu juga yang menjadi pengalaman saya di masa kecil.
Suasana lingkungan ini tidak terlalu berpengaruh pada kami. Sedikit tantangan adalah menjelaskan makna natal yang sebenarnya pada anak-anak kami. Beruntung, anak kami masih balita, jadi kami tidak perlu mengolah kata terlalu banyak untuk menjelaskan terlalu detail. Kami juga membelikan baju baru, sepatu baru, menyediakan makanan kecil yang sedikit berbeda dari biasanya, tapi semua semata karena memang dibutuhkan, bukan karena tibanya Natal. Kami bukan tidak ingin memperbaiki keadaan rumah, menambah mebel baru, mengganti yang rusak…tapi kami rasa ada yang lebih urgen dari semua itu.
Sebuah pertanyaan kritis dapat saja diberikan. Apakah tanpa semua itu, Natal menjadi tidak sah? Apakah orang-orang yang sibuk, bahkan dapat disebut super sibuk selama Natal telah menjamin adanya Natal yang sejati?
Dalam kenyataannya, tidak demikian. Ada cukup banyak orang yang setelah sibuk dengan berbagai kegiatan Natal, selain mengalami kelelahan, tidak mengalami apa-apa. Segera setelah Desember lewat dan memasuki Januari, segala kesibukan tersebut berakhir, simbol-simbol Natal, seperti pohon terang pun tidak lagi terlihat.
Namun apa yang masih sisa? Barangkali, jawabnya bisa sangat menyedihkan. Tidak ada yang tersisa. Hati kosong, tetap kosong dan bahkan semakin kosong. Orang-orang yang berbuat dosa, tetap berbuat dosa! Dalam kondisi demikian, Natal bukan saja menjadi tidak bermakna, tapi bahkan sesat makna.
Dalam kondisi seperti di atas, Gereja dan umat harus terus-menerus waspada agar tidak terjerat kepada kegiatan dan rutinitas semata. Untuk itu, Gereja harus melepaskan diri dari berbagai pengaruh dunia yang negatif. Dengan demikian, kita dapat memahami makna Natal yang sesungguhnya.
Sangat menyedihkan saat kita sudah sibuk dengan segala kelelahan fisik, mental dan bahkan materi sedangkan makna Natal (baik secara pribadi) tidak kita dapatkan. Akan sangat menyedihkan pada saat perayaan Natal berlalu, tersisa keluhan : uang habis tak tersisa untuk belanja, fisik lelah karena terlalu banyak persiapan, terlanjur menggunakan emosi saat berseteru dengan rekan saat melakukan persiapan dengan dalih mau membuat yang terbaik, tidak memiliki waktu lebih banyak berkumpul dengan keluarga, dsb, dsb.
Pastor kesayangan saya pernah berkotbah begini tentang makna Natal :
“Alkitab dengan sangat jelas mewartakan adanya makna Natal yang bersifat objektif, melalui kelahiran Yesus Kristus di hari Natal tersebut, sesuatu hal yang sangat penting terjadi kepada manusia berdosa. Karena Allah sedemikian mengasihi manusia, sehingga Ia telah memberikan AnakNya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Dengan perkataan lain, manusia yang seharusnya binasa karena dosa, beroleh pengampunan dan keselamatan yang pasti.”
Sesungguhnya, keselamatan dan hidup kekal tersebut adalah suatu anugerah yang sangat berharga yang tidak mungkin dapat dibeli dengan uang atau dicapai dengan kemampuan manusia. Hidup kekal tersebut, juga tidak dapat diberikan oleh agama dan keyakinan apapun. Namun, sangat disayangkan, sekalipun berita Alkitab tersebut sangat jelas, dalam kenyataannya, banyak orang yang setelah merayakan Natal tetap saja tidak memiliki keyakinan akan pengampuan dosa serta kehidupan yang kekal.
Sebaiknya, kita menunjukkan bahwa sesungguhnya segala kesibukan tersebut di atas keluar sebagai ungkapan syukur karena telah mengalami karyaNya yang sangat ajaib tersebut.
Tidak saja demikian, kehidupan seluruh umat yang telah mengalami keselamatan tersebut, harus terus-menerus diilhami oleh teladan Yesus Kristus yang sedemikian sempurna. Keteladanan Yesus tersebut sangat diperlukan dalam membangun masyarakat dan bangsa yang sedang mengalami berbagai macam krisis kehidupan.
Teladan seperti apa? Teladan Yesus yang hidup mengasihi, memang sangat diperlukan dalam dunia yang penuh kebencian dan persaingan. Teladan Yesus yang rela berkorban dan semangatNya memberi diri bagi kebaikan sesama, merupakan hal lain yang sangat penting dan mendesak untuk kita miliki, khususnya di dalam dunia yang semakin egois dan tidak perduli kepada sesama. Akhirnya, teladan kesederhanaanNya, juga sangat diperlukan dalam zaman yang sangat menonjolkan dan membanggakan kemewahan ini. Di tengah-tengah gaya hidup yang semakin wah dan gemerlapan, ada satu fakta dan realita yang penting untuk direnungkan: Tuhan dan Juru selamat dunia, lahir di dalam palungan.
Satu hal yang ingin saya wariskan sebagai makna Natal pada anak-anak adalah “ Yesus adalah Satu-satunya Pribadi yang dapat memilih tempat kelahiranNya, (dengan kekuasaan dan kemampuanNYa, Yesus dapat memilih tempat lahir yang paling indah sekalipun) tapi Dia memilih lahir di palungan”
Selamat merayakan Natal
Selamat menempuh Hidup baru di tahun baru 2012
Selamat membuat resolusi hidup yang lebih maju
Selamat memaknai Natal dengan caramu….
Kupang, 22 Desember 2011
Please always inspiring others, to be a better person, to never stop achieving, to keep going, to forgive and to enjoy the present
Rabu, 21 Desember 2011
Kamis, 01 Desember 2011
Penulisan Butir Soal Uraian
Penulisan Butir Soal Uraian
Pengertian Tes Uraian/Esai
Yang dimaksud dengan tes uraian dalam tulisan ini adalah butir coal yang mengandung pertanyaan atau togas yang jawaban atau pengerjaansoal tersebutharus dilakukandengan caramengekspresikan pikiran peserta tes. Ciri khas tes uraian ialah jawaban terhadap soal tersebut tidak disediakan oleh orang yang mengkonstruksi butir soal, tetapi hares dipasok oleh peserta tes. Jadi yang terutama membedakan tipe soal objektif dan tipe soal uraian adalah siapa yang menyediakan jawaban atau alternatif jawaban terhadapsoal atau togas yangdiberikan. Butir coal tipe uraian atau dalam bahasa Inggrisnya dinamakan "essay test" hanya terdiri dari pertanyaan atau togas (kadangkadang juga hares disertai dengan beberapa ketentuan dalam menjawab atau mengerjakan soal tersebut), dan jawaban sepenuhnya hares dipasok oleh peserta tes. Peserta tes bebas untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Setup peserta tes dapat memilih, menghubungkan, dan menyampaikan gagasannya dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Dengan pengertian di atas maka segera akan kelihatan bahwa pemberian skor terhadap jawaban soal tidak mungkin dilakukan secara objektif.
Kekuatan tes uraian/esai
Soal tipe uraian mempunyai beberapa kelebihan yang tidak dapat atau sukar diperoleh melalui penggunaan tipe butir coal lain. Kelebihan itu antara lain:
a. Tes uraian dapat digunakan dengan baik untuk mengukur hash belajar yang kompleks. Pada umumnya hash belajar bersifat kompleks. Tetapi sebagian besar dari hash belajar yang kompleks dapat dirinci menjadi beberapa hash belajar yang lebih sederhana.
Rincian basil belajar yang sederhana itu secara terbatas dapat berdiri sendiri, dan secara bersama-sama beberapa basil belajar sederhana itu akan membentuk basil belajar yang kompleks. Pengukuranhasil belajarYang seperti ini ddakmenuntutpenggunaan tes tipe uraian. Misalnya, bila hash belajaryang akan diukurberupa pemahaman dari suatu prinsip yang kompleks. Pemahaman seperti itu selalu dapat diuraikan menjadi bagian-bagian yang sederhana. Tetapi ada pula beberapa hash belajar lain yang sifatnya kompleks dan bila dirinci menjadi basil belajar yang lebih sederhana dapat kehilangan arti globalnya, sebab hubungan antara komponen hasil belajar yang satu dengan yang lain sangat erat, misalnya basil yang bersifat ekspresif atau kreatif. Hasil belajar yang seperti ini sebaiknya atau seharusnya diukur dengan menggunakan tes tipe uraian.
Norman E. Gronlund (1971, hal. 216) mengidentifikasi basil belajar seperti yang tersebut terakhir ini:
1) kemampuan mengaplikasikan prinsip.
2) kemampuan menginterpretasi hubungan.
3) kemampuan mengenal dan menyatakan inferensi.
4) kemampuan mengenal relevansi dari suatu informasi.
5) kemampuan merumuskan dan mengenal hipotesis.
6) kernampuan merumuskan dan mengenal kesimpulan yang
sahib.
7) kemampuanmengidentifikasi asumsi yang mendasarkan suatu kesimpulan.
8) kemampuan mengenal keterbatasan data.
9) kemampuan mengenal dan menyatakan masalah. 10) kemampuan mendesain prosedur eksperimen.
Kebaikan ini adalah yang paling menonjol dalam penggunaan tipe tes uraian. Tidaklah dengan sendirinya tes tipe uraian menghasilkan pengukuran basil belajar yang kompleks. Masih sangat tergantung kepada kemampuan dosen untuk mengkonstruksi butir soal uraian. Bahkan kita tidak jarang menemui adanya butir soal uraian yang menanyakan hal yang sederhana, yang sebenamya jauh lebih efektif bila dites dengan menggunakan butir soal objektif.
b. Tes bentuk uraian terutama menekankan kepada pengukuran kemampuan dan keterampilan mengintegrasikan berbagai buah pikiran dan sumber infonnasi ke dalam suatu pola berpikir tertentu, yang disertai dengan keterampilan pemecahan masalah. Integrasi bush pikiran itu membutuhkan dukungan kemampuan untuk mengekspresikannya. Tanpa dukungan kemampuan mengekspresikan buah pikiran secara teratur dan taatasas, maka kemampuan tidak dapat terlihat dengan baik. Bahkan sebaliknya kemampuan itu akan kelihaian dengan jelas dari susunan kalimat, dan kemampuan menyusun paragraf yang baik.
c. Bentuk tes uraian lebih meningkatkan motivasi peserta tes untuk belajar dibandingkan bentuk tes yang lain. Sesuai dengan sifatnya yang menuntut kemampuan mahasiswa amok mengekspresikan jawaban dalam kata-kata sendiri, maka bentuk tes uraian menuntut penguasaan bahan secara penuh. Penguasaan bahan yang tanggung dapat dideteksi dengan mullah. Karma itu amok menjawab tes uraian dengan baik peserta tes akan benisaha menguasai bahan yang diperkirakannya akan diujikandalam tes secaratuntas. Karena keseluruhan bahan sangat luas dan tidak mungkin dapat dikuasai dengan baik selunihnya, makabiasanya peserta tes terpaksa menebak bagian bahan yang diperkirakan akan keluar dalam soal ujian.
d. Kelebihan lain tes uraian ialah memudahkan down amok menyusun butirsoal. Kemudahan ini terutama disebabkan oleh dua hal, pertama, jumlah butir coal tidak perlu banyak, dan kedua, down tidak selalu harus memasok jawaban atau kemungkinan jawaban yang benar. Kelebihan ini terutama yang acapkali mendorong down amok menggunakan bentuk butir soal ini. Jadi motifnya tidak terlalu sehat. Apa lagi bila kemudahan menyusun budrsoalbentukuraianitudipedakukansecarakurangbertanggung jawab, atau karma desakan pekerjaan rangkap lainnya.
e. Tes uraian sangat menekankan kemampuan menulis. Hal ini merupakan kebaikan, sekaligus kelemahannya. Dalam arti yang positif tes uraian akan sangat mendorong mahasiswa dan down untuk belajar dan mengajar menyatakan pikiran secara tertulis. Dengan demikian diharapkan kemampuan peserta didik dalam menyatakan pikiran secara tertulis akan meningkat. Tetapi dilihat dari segi lain, penekanan yang berlebihan terhadap penggunaan tes uraian yang sangat menekankan kepada kemampuan menyatakan pikiran dalam bentuk tulisan ini dapat menjadikan tes sebagai alat ukur yang tidak adil dan tidak reliabel. Karena tekanan yang berlebihan pads aspek kemampuan menulis itu, akan menjadi penghalang bagi peserta didik yang memang tidak mempunyai kemampuan dalam bidang itu, walaupun si peserta didik tersebut menguasai bahan yang diujikan. Selain itu, tidak semua ilmu dan pengetahuan yang diajarkan di sekolah menuntut adanya kemampuan menyatakan pikiran dalam bentuk tertulis.
Kelemahan tes uraian/esai
Tes uraian juga mengandung kelemahan yang serius. Beberapa kelemahan pokok tersebut adalah:
a. Reliabilitas tes rendah. Artinya skor yang dicapai oleh peserta tes tidak konsisten bila tes yang sama atau tes yang paralel diuji ulang beberapa kali. Robert L. Ebel dan David A. Frisbie (1986, ha1.129) mengidentifikasi adanya tiga penyebab rendahnya reliabilitas tes uraian. Pertama, keterbatasan sampel bahan yang tercakup dalam soal tes. Karena sifat jawaban tes uraian menuntut waktu yang relatif banyak, maka tidak mungkin perangkat tes uraian terdiri dari butir soal yang banyak jumlahnya sehingga mewakili seluruh bahan yang akan diujikan. Hal ini berarti bahwa pokok bahasan yang dapat diambil sebagai bahan tes sangat terbatas. Jadi tidak mungkin mewakili seluruh bahan secara baik dalam liputan bahan tes. Kedua, Batas-Batas tugas yang harus dikerjakan oleh peserta tes sangat longgar, walaupun telah diusahakan untuk menentukan batasan-batasan yang cukup ketat. Keragaman jawabanantarpeserta tes tetap saja akan besar. Keragaman itu tidak hanya terjadi antara peserta tes, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan, waktu, bahkan suasana tes yang ada. Tes yang sama diuji pada pagi hari, di mana pada umumnya saat itu peserta tes masih segar akan menghasilkan skor yang berbeda bila tes itu diujikan sore harinya. Dan ketiga, penyebab rendahnya reliabilitas tes itu adalah subyektivitas penskoran yang dilakukan oleh pemeriksa tes. Berbeda orang yang memeriksa, maka berbeda pula skor yang diperoleh peserta tes. Bahkan orang yang sama memeriksa tes yang sama pads waktu yang berbeda akan menghasilkan skor yang berbeda pula.
b. Untukmenyelesaikan tes uraian dengan baik dosen dan mahasiswa harusmenyediakanwaktucukupbanyak. Waktumahasiswahanislah cukup banyak ketika mengerjakan tes. Sedangkan dosen hams menyediakan waktu yang banyak untuk memeriksa. Bila kedua waktu ini tidak dapat diadakan, maka sebaiknya tes uraian tidak digunakan, karena tes uraian yang tidak diperiksa dengan teliti tidak dapat menjadi slat ukur pendidikan yang efektif.
c. Jawaban peserta tes kadang-kadang disertai dengan bualan. Peserta tes yang kurang menguasai bahan yang diujikan acapkali jugs mencoba menjawab dengan menguraikan hal lain yang tidak berhubungan dengan hal yang ditanyakan atau dengan kata lain peserta tes membual. Jawaban yang tidak befiarga inipun hares dibaca oleh dosen dengan teliti.
d. Kemampuan menyatakan pikiran secara temilis menjadi hal yang paling membedakan prestasi belajar antar mahasiswa. Padahal hanya hasilbelajaryangtertentu sajalahyangharusdikomunikasikan dalam bentuk tertulis. Sebagian besar hasil belajar lain dinyatakan dalam bentuk tingkah lake atau sikap, bukan dalam bentuk pemyataan tertulis.
Penggunaan tes uraian/esai
• Bila jumlah mahasiswa atau peserta ujian terbatas maka soal uraian dapat digunakan karena masih mungkin bagi dosen untuk dapat memeriksa/menskor hasil ujian tersebut secara baik. Bila peserta ujian terlalu banyak, misalnya lebih dari seratus (100) orang, maka akan menyita waktu dosen terlalu banyak, sehingga penggunaan soal uraian menjadi tidak efisien lagi.
• Bila waktu yang dipunyai dosen untuk mempersiapkan soal sangat terbatas, sedangkan is mempunyai waktu yang cukup untuk memeriksa hasil ujian, maka soal uraian dapat digunakan. Secara relatif, waktu yang dibutuhkan untuk mengkonstruksi butir soal uraian tidak terlalu banyak.
• Bila tujuan instniksional yang ingin dicapai adalah kemampuan mengekspresikan pikiran dalam bentuk tertulis, menguji kemampuan menulis dengan baik, atau kemampuan penggunaan bahasa secara tertib, maka haruslah menggunakan tes uraian.
• Bila dosen ingin memperoleh informasi yang tidak tertulis-secara langsung di dalam soal ujian tetapi dapat disimpulkan dari tulisan peserta tes, seperti sikap, nilai, atau pendapat. Soal uraian dapat digunakan untuk memperoleh informasi tidak langsung tersebut, tetapi hares digunakan dengan sangat hati-hati oleh dosen.
• Bila dosen ingin memperoleh hasil pengalaman belajar mahasiswanya, maka tes tipe uraian merupakan salah sate bentuk yang paling cocok untuk mengukur pengalaman belajar tersebut.
Klasifikasi Tes Uraian/Esai
Tes tipe uraian secara umum dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu tes uraian bebas (extended response) dan tes uraian terbatas (restricted response). Pembedaan kedua jenis tes uraian ini adalah atas dasar besarnya kebebasan yang diberikan kepada peserta tes untuk mengorganisasikan, menulis dan menyatakan pikiran dan gagasannya.
a. Tes uraian bebas (Extended response).
Dalam soal tes uraian bebas hampir-hampir tidak ada pembatasan terhadappesertates dalam memberikan jawabannya. Pesertates memiliki kebebasan yang leas sekali untuk mengorganisasikan dan mengekspresilcanpikirandangagasannyadalammenjawabsoaltersebut. Jadi dengan demikian jawaban mahasiswa bersifat terbuka, fleksibel, dan tidak terstruktur. Contoh butir coal uraian bebas:
Uraikanlah peranan pemuda dalam perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia sejak tahun 1908 sampai dengan tahun 1928. Dalam uraian Anda hendaknya terdapat contoh-contoh organisasi pemuda yang aia pada masa itu beserta para pemimpinnya. Uraian Anda hendaknya tidak melebihi 2 halaman.
Untuk dapat menjawab butir soal ini dengan baik, maka peserta tes haius memiliki kemampuan mengingat faktahistoris sekitarperjuangan kemerdekaan kemudian memilih fakta yang terpenting di antara semua fakta yang akan mendukung argumentasi jawabannya. Setelah itu is harus mengorganisasikan dalam pikirannya fakta dan menyusunnya dalam suatu uraian yang logis dan dengan menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh orang lain. Dengan kata lain dalam menjawab tes uraian bebas, seorang peserta ujian hares mulai dengan pengetahuan yang bersifat faktual, kemudian mengevaluasi fakta yang dimilikinya, mengorganisasikan fakta pilihannya itu ke dalam suatu susunan yang logis, dan akhirnya menyajikannya dalam suatu uraian naratif yang dapatdimengertioranglain. Kalaupunadabatasanhanyalahpanjangnya uraian yang ditentukan oleh pembuat butir soal. Pembatasan seperti itu sangat diperlukan sehingga is dapat memperkirakan waktu yang hares disediakannya untuk memeriksa jawaban pesecta ujian. Peserta ujian sepenuhnya diberi kebebasan untuk menjawab menurut gaga bahasa dan gaya kognitifnya masing-masing. Dengan demikian maka jelaslah keterampilan mengekspresikan pikiran dalam bentuk tertulis akan besar sekali kontribusinya dalam menjawab soal ujian tipe ini. Butir soal jenis ini baik digunakan untuk mengukurhasil belajar pada tingkat aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
b. Tes Uraian Terbatas (Restricted Response)
Dalam menjawab tes uraian terbatas, peserta tes lebih dibatasi oleh berbagai rambu-rambu yang ditentukan dalam budr soal. Keterbatasan itu mencakup format, isi, dan ruang lingkup jawaban. Jadi soal tes uraian terbatas ini hares menentukan batas jawaban yang dikehendaki. Batas itu meliputi konteks jawaban yang diinginkan, jumlah befit jawaban yang diharapkan, keluasan uraian jawaban, arch dan leas jawaban yang diminta. Misalnya:
GBHN menentukan bahwa ada delapan jalur pemerataan pembangunan. Sebutkanlah kedelapan jalur pemerataan pembangunan tersebut secara berurutan. Pilihlah salah satu jalur pemerataan yang Anda kuasai, definisikan artinya dan berilah tiga contoh pelaksanaannya dalam bidang ekonomi. Uraian Anda diharapkan tidak lebih dari satu halaman.
Untuk menjawab butir soal ini peserta tes jauh lebih terikat bila dibandingkan dengan contoh terdahulu. Dalam coal tes uraian jenis ini peserta tes tidak dapat memilih dengan bebas penyajiannya. Ia harus mengikuti instruksi butir soal untuk menjawab. Tetapi peserta tes tetap mempunyai kebebasan untuk memberikan jawabannya menurut pola kognitifnya sendiri> dan jugaia mempunyai kebebasanmengekspresikan jawaban dalam gayanya sendiri. Karma bentuk jawaban yang dituntut, butir soal jenis uraian terbatas sebaiknya digunakan untuk mengukur hash belajar tingkat pemahaman, aplikasi, dan analisis.
Tes uraian dapat pula diklasifikasi dalam kategori yang lain seperti yang dilakukan oleh W.S. Monroe dan R.E. Carter (1923) yang membedakan 20 jenis butir soal tes uraian, yaitu butir soal yang:
1) bersifat ingatan yang terpilih.
Misalnya: Sebutkanlah tiga cars mencegah erosi di lahan kritis.
2) bersifat ingatan evaluatif.
Misalnya: Sebutkanlah nama dua tokoh yang paling besar peranannya dalam pembaharuan Islam di Indonesia dalam abad keduapuluh.
3) membandingkan dua hat terbatas:
Misalnya: Bardingkanlah taktik dan strategi perjuangan mencapai kemerdekaan antara Ir. Soekamo dan Drs. Moh. Hatta.
4) membandingkan dua hal secara umum:
Misalnya: Bandingkanlah binatang pemakan tumbuh-tumbuhan dengan binatang buas.
5) mengambil keputusan, baik dalam arti menentang ataumendukung sesuatu.
Misalnya: Apakah sebaiknya hukuman mati diterapkan dalam negara yang berdasarkan Pancasila? Berikan alasan pendapat Anda.
6) menguraikan sebab akibat.
Misalnya: Apakah sebabnya tumbuhtumbuhan yang selalu terlindung dari sinar matahari kelihatan kuius dan kemudian mati?
7) menjelaskanpenggunaanataupengerbiansuatufrasaataupernyataan dalam suatu karangan.
Misalnya: Definisikan arti frasa "makan had" dalam kalimat
berikut ini. "Ibu tea itu selalu makan hati melihat
kelakuan anaknya".
8) meringkas suatu karangan yang telah dibaca.
Misalnya: Uraikanlah secara singkat siklus air (tidak lebih d~ri 100 kata).
9) menganalisis.
Misalnya: Dalam setiap perundingan antara Republik Indonesia dengan Belanda pada masa perjuangan mempertahan kemerkedaan Indonesia, Belanda selalu mengusulkan agar Indonesia berbentuknegara serikat. Alasan-alasan politis apakah yang mendasari usul Belanda tersebut?
10) menyatakan hubungan.
Misalnya: Apakah sebabnya rumah hares mempunyai ventilasi yang cukup?
11) memberi ilustrasi atau contoh.
Misalnya: Berilah dua contoh tindakan manusia yang menyebabkan terganggunya kesaimbangan alam.
12) mengklasiflkasi (biasanya kebalikan dari nomor 11)
Misalnya: Masuk golongan apakah binatang berikut ini? Sapi, kerbau, kambing, kijang, rusa, jerapah. Beri alasan.
13) menerapkan prinsip atau aturan ke dalam suatu situasi bane.
Misalnya: Andaikan ada sebuah balon diisi dengan gas ringan, kemudian dilepaskan dalam sebuah kamar. Balon tersebutmengambang diantaralantai danlangit-langit. Bila kemudian gas dalam baton tersebut dipanaskan
apakah yang akan terjadi?
14) membahas sesuatu:
Misalnya: Bahaslah hubungan antara panjang tangkai suatu pendulum dengan jangka waktu berayunnya.
15) menyatakan maksud atau tujuan:
Misalnya: Tulislah interpretasi Anda secara singkat apa maksud pengarang sajak "Aku" menyatakanbahwa"Aku ingin hidup seribu tahun lagi"?
16) mengeritik secara tepat, teipercaya, dan relevan.
Misalnya: Coba tulis kritik atau pertahankan pendapat yang menyatakan bahwa semua bakteri berbahaya bagi kesehatan manusia.
17) membuat garis besar.
Misalnya: Tulislah secara garis besamya cara amok menghitung hargasatuan suhu dari skala Celsiuske skala Fahrenheit.
18) mengorganisasi ulang (reorganisasi) fakta.
Misalnya: Telusurilah kembali perkembangan bahasa Indonesia dari bahasa Melayu sehingga menjadi bahasa negara dan bahasa pengantar di Nusantara.
19) menimuskanpermasalahanataupertanyaandaribeberapakenyataan atau asumsi yang ditegakkan terlebih dahulu.
Misalnya: Dalam keadaanyangbiasa (normal) tumbuh-tumbuhan yang bare ditanam akan tumbuh dengan pucuk mengarah ke atas dan akar mengarah ke bawah. Dapatkah Anda jelaskan bila keadaan tersebut tidak berlaku? Tuliskan persyaratan yang hares dipenuhi
20) menyatakan metoda atau prosedur baru.
Misalnya: Kenyataan menunjukkan bahwa laju peningkatan penduduk di Indonesia masih berkisar antara 1,5% sampai dengan 2,0% untuk masa 25 tahun mendatang, dan laju pertumbuhan ekonomi kits akan berkisar antara 2% sampai dengan 5%. Rumuskanlah tiga masalah pokok yang akan timbal pada awal abad ke 21 yang akan datang di Indonesia.
Ada beberapa ragam tes uraian terbatas, antara lain ragam tes melengkapi dan ragam tes jawaban singkat.
1) Butir Soal Tipe Jawaban Melengkapi
Yang dimaksud dengan bath coal melengkapi adalah bath soal yangmeminta atau memerintahpeserta untukmelengkapi suatu kalimat dengan sate frasa, sate angka atau sate formula.
a) Kekuatan dan Keterbatasan
Butir soal tipe jawaban melengkapi banyak digunakan dalam tes matematik untuk pendidikan dasar, tenitama pada butirsoal yang hanya membutuhkan operasi sederhana, seperti menjumlah, mengurangi, membagi, dan mengali angka sate atau dua digit tanpa angka pecahan. Tipe bath soal ini juga baik digunakan untuk menguji kemampuan mengingat fakta dan prinsip yang sederhana. Selain itu tipe bath soal ini juga dapat digunakan untuk menguji kemampuan pada tingkatan yang lebih tinggi, seperti pemahaman, aplikasi, bahkan evaluasi, asalkan dikonstruksi secara hati-hati.
Kekuatan utama butir soal tipe melengkapi ini adalah mudah dikonstruksi. Dalam waktu yang relatif singkat dapat dikonstniksi sejumlahbutirsoal. Dengandemikianbutirsoal tipe ini dapatmembantu dosen yang hares mempersiapkan butir soal dalam waktu yang singkat, tanpa mengorbankan mute butir soal. Penggunaan tipe butir soal melengkapi ini akan mampu menguji sebagian besar pokok bahasan dalam waktu yang relatif singkat.
Butir soal tipe jawaban melengkapi ini tentu mempunyai keterbatasan-keterbatasan. Keterbatasan utamanya adalah tidak dapat menguji semua tingkat kemampuan hasil belajar. Karena sifatnya yang membatasi jawaban pada sate kata, frasa, angka atau formula maka tidak mungkin tes seperti itu mampu mengukur kemampuan mengekspresikan pikiran atau memformulasi pendapat secara tepat. Butir soal tape ini terlalu menekankan pada kemampuan mengingat, sehinggahasil tes tidak akan menggambarkankeseluruhankemampuan hasil belajar.
b) Beberapa petunjuk penulisan butir soal tipe jawaban melengkapi
Untuk memperoleh butir soal tipe jawaban melengkapi yang baik,
maka beberapa petunjuk berikut ini diharapkan akan membantu:
(1) Konsultasilah butir soal yang mengukur hasil belajar yang penting saja. Hasil belajar yang remeh (trivial) tidak perlu diujikan. Misalnya:
Lemah Jumlah bayi yang meninggal sebelum mencapai usia enam tahun di kecamatan ini tahun lalu adalah ...
Lebih baik Di Kecamatan ini jumlah bayi yang meninggal sebelum mencapai usia lima tahun dalam dua tahun terakhir adalah... untuk setiap seribu penduduk.
(2) Konstruksilah butir soal yang mengandung permasalahan yang bersifat spesifik. Butir soal itu haruslah menjamin bahwa hanya peserta tes yang menguasai isi pelajaran yang dapat menjawab soal itu dengan baik. Misalnya:
Lemah Daun tembakau mengandung ...
Lebih baik : Bahan yang berbahaya bagi kesehatan yang terdapat dalam dawn tembakau adalah ...
(3) Konstruksilah butir soal yang menghaniskan peserta memberi jawaban yang secara faktual benar. Misalnya:
Lemah Orang merokok akan ...
Lebih baik : Kebiasaan merokok akan menyebabkan penyakit ...
(4) Konstruksilah butir soal dengan menggunakan bahasa yang jelas, dan tidak mengandung arti yang mendua. Misalnya:
Lemah Ibu kota Kuwait yang diduduki Irak adalah ...
Lebih baik : lbu kota Kuwait adalah ...
(5) Bila yang ditanyakan menyangkut angka atau jumlah dari satu satuan tertentu, maka sebaiknya nyatakan satuan tersebut dalam soal. Misalnya:
Lemah Seorang anak umur 12 tahun sebaiknya setiap hari minum susu ...
Lebih baik : Seorang anak umur 12 tahun sebaiknya setiap hari minuet susu mumi .., gelas.
(6). Setiap butir soal sebaiknya hanya berisi satu jawaban yang harus dikerjakan oleh peserta tes. Misalnya:
Lemah Suatu propinsi dibagi menjadi beberapa ..., yang selanjutnya dibagi lagi menjadi beberapa ..., dan kemudian dibagi lagi menjadi beberapa ..., dan akhirnya unit terkecil disebut ... .
Lebih baik : Propinsi Jawa B arat dibagi menjadi ... kabupaten dan
kota madya
a). Kekuatan dan Keterbatasan
Butir coal tipe jawaban singkat ini termasuk salah satu tipe yang paling mudah dikonstruksi. Hal ini terutama disebabkan oleh butir soal ini hanya akan mengukur hash belajar yang sederhana, yaitu yang bersifat ingatan. Hanya balk digunakan untuk mengukur
kemampuan pemecahan masalah untuk bidang Matematik dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Kekuatan lainnya butir soal tipe ini ialah mengharuskan peserta tes menulis jawabannya, bukan memilih jawaban yang telah tersedia. Dengan demikian maka akan dapat meminimalkan kemungkinan menebak.
Ada dua keterbatasan utama butir soal tipe jawaban singkat ini, yaitu tidak dapat mengukur hash belajar yang kompleks dan sulit dinilai. Karena sifatnya yang sederhana, maka butir soal tape ini hanya menghasilkan respons singkat yang sederhana. Respons singkat yang seperti itu tidak memungkinkan untuk mengukur hash belajar yang lebih kompleks. Kebanyakan hanya terbatas pada hash belajar yang bersifat ingatan, dan paling tinggi hanya bersifat pemahaman. Untuk matematika atau IPA masih mungkin untuk mengukur kemampuan penerapan (aplikasi). Di atas kemampuan itu sudah tidak mungkin lagi diukurdengan butirsoal tipe ini. Berkenaan dengan kesederhanaannya itu maka acapkali menimbulkan keterbatasan kedua, yaitu sulit dinilai. Hanya butir soal yang dikonstruksi secara hati-hati yang tidak menimbulkan masalah ini. Misalnya:
Berapakah jumlah propinsi di Indonesia?
Jawaban terhadap pertanyaan ini masih mungkin sekali beragam. Jawabannya mungkin saja berkisar antara 8 (delapan) sampai dengan 27 (dua puluh tujuh), tergantung pada waktunya . Pada tahun 1945 , Indonesia terdiri dari 8 propinsi, sedangkan sekarang negara kits terdiri dari 27 propinsi. Mungkin dalam beberapa tahun yang akan datang men jadi 29 propinsi, . bila Irian Jaya telah diperluas menjadi tiga propinsi. Jadi soal yang seperti itu sebaiknya lebih disempumakan menjadi:
Berapakah jumlah propinsi di Indonesia pada tahun 1990?
Soal terakhir ini tidak menimbulkan kesulitan dalam penskorannya. Penulisan soal seperti ini memang menuntut kehati-hatian dari dosen, karena biasanya dosen sutra mengasumsikan saja bahwa peserta tes mengetahui apa yang dimaksudkan oleh dosen, sehingga merasa tidak perlu dituliskan dalam soal. Inilah letak kelemahannya.
b). Klasifikasi butir soal jawaban singkat
Secara umum ada dua variasi butirsoal tipe jawaban singkat, yaitu: (1) yang menggunakan bentuk pertanyaan, dan (2) yang menggunakan bentuk asosiasi. Contoh yang menggunakan bentuk pertanyaan artalah:
Siapakah pendiri kerajaan Majapahit?
Apakah kota suci umat Islam yang terpenting?
x + 2 = 4. Berapa x?
Bagaimanakah formula asam sulfat?
Contoh yang menggunakan bentuk asosiasi adalah: Apakah nama ibu kota propinsi berikut?
Irian Jaya
Aceh
Timor Timur
Bengkulu
c). Beberapa petunjuk konstruksi butir soal tipe jawaban singkat
Berikut ini beberapa petunjuk untuk menulis butir soal jawaban singkat, yang disertai contoh sederhana.
(1) Pergunakanlah kata-kata yang menuntut jawaban yang singkat
dan tertentu. Jawaban itu haruslah satu kata, satu frasa, sebuah
angka, atau sebuah simbol. Misalnya:
Lemah : Disebut apakah binatang pemakan binatang lain dan tumbuh-tumbuhan?
Lebih baik : Termasuk klasifikasi apakah binatang pemakan binatang lain dan tumbuh-tumbuhan?
(2) Jangan menggunakan kalimat yang langsung diambil dari buku atau dari catatan. Penggunaan kalimat yang langsung diambil dari buku atau catatan cenderung mendorong peserta didik akan menghafal mad, tanpa berusaha memahami apa yang dipelajarinya. Untuk menghindari kelemahan itu maka sebaiknya bahan ajaran yang diambil dari buku tersebut disusun kembali dalam kalimat yang mudah dipahami oleh mahasiswa.
(3) Jangan sampai pertanyaan yang diajukan menjadi tes bahasa, sedangkan maksudnya untuk menguji mated pelajaran lain. Misal:
Lemah : Apakahistilahyangdigunakanuntukmenyatakan kedatangan Columbus ke Benua Amerika tahun 1492?
Lebih baik : Sipakah yang menemukan benua Amerika tahun 1492?
(4) Untuk menanyakan istilah atau defmisi sebaiknya digunakan kalimat tanya secara langsung. Kalimat lain yang mendahului kalimat tanya, yang dimaksudkan untuk menjelaskan pertanyaan, acapkali mengakibatkan pertanyaanmenjadi kabur. Misalnya:
Lemah : Setiap mahasiswa hares mentaati peraturan sekolah. Ketaatan kepada aturan sekolahitu dalam P4 apa namanya?
Lebih baik : Sikapyangmenganjurkanmemeliharakebersihan kelas sesuai dengan Sila keberapa dari Pancasila?
Pengertian Tes Uraian/Esai
Yang dimaksud dengan tes uraian dalam tulisan ini adalah butir coal yang mengandung pertanyaan atau togas yang jawaban atau pengerjaansoal tersebutharus dilakukandengan caramengekspresikan pikiran peserta tes. Ciri khas tes uraian ialah jawaban terhadap soal tersebut tidak disediakan oleh orang yang mengkonstruksi butir soal, tetapi hares dipasok oleh peserta tes. Jadi yang terutama membedakan tipe soal objektif dan tipe soal uraian adalah siapa yang menyediakan jawaban atau alternatif jawaban terhadapsoal atau togas yangdiberikan. Butir coal tipe uraian atau dalam bahasa Inggrisnya dinamakan "essay test" hanya terdiri dari pertanyaan atau togas (kadangkadang juga hares disertai dengan beberapa ketentuan dalam menjawab atau mengerjakan soal tersebut), dan jawaban sepenuhnya hares dipasok oleh peserta tes. Peserta tes bebas untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Setup peserta tes dapat memilih, menghubungkan, dan menyampaikan gagasannya dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Dengan pengertian di atas maka segera akan kelihatan bahwa pemberian skor terhadap jawaban soal tidak mungkin dilakukan secara objektif.
Kekuatan tes uraian/esai
Soal tipe uraian mempunyai beberapa kelebihan yang tidak dapat atau sukar diperoleh melalui penggunaan tipe butir coal lain. Kelebihan itu antara lain:
a. Tes uraian dapat digunakan dengan baik untuk mengukur hash belajar yang kompleks. Pada umumnya hash belajar bersifat kompleks. Tetapi sebagian besar dari hash belajar yang kompleks dapat dirinci menjadi beberapa hash belajar yang lebih sederhana.
Rincian basil belajar yang sederhana itu secara terbatas dapat berdiri sendiri, dan secara bersama-sama beberapa basil belajar sederhana itu akan membentuk basil belajar yang kompleks. Pengukuranhasil belajarYang seperti ini ddakmenuntutpenggunaan tes tipe uraian. Misalnya, bila hash belajaryang akan diukurberupa pemahaman dari suatu prinsip yang kompleks. Pemahaman seperti itu selalu dapat diuraikan menjadi bagian-bagian yang sederhana. Tetapi ada pula beberapa hash belajar lain yang sifatnya kompleks dan bila dirinci menjadi basil belajar yang lebih sederhana dapat kehilangan arti globalnya, sebab hubungan antara komponen hasil belajar yang satu dengan yang lain sangat erat, misalnya basil yang bersifat ekspresif atau kreatif. Hasil belajar yang seperti ini sebaiknya atau seharusnya diukur dengan menggunakan tes tipe uraian.
Norman E. Gronlund (1971, hal. 216) mengidentifikasi basil belajar seperti yang tersebut terakhir ini:
1) kemampuan mengaplikasikan prinsip.
2) kemampuan menginterpretasi hubungan.
3) kemampuan mengenal dan menyatakan inferensi.
4) kemampuan mengenal relevansi dari suatu informasi.
5) kemampuan merumuskan dan mengenal hipotesis.
6) kernampuan merumuskan dan mengenal kesimpulan yang
sahib.
7) kemampuanmengidentifikasi asumsi yang mendasarkan suatu kesimpulan.
8) kemampuan mengenal keterbatasan data.
9) kemampuan mengenal dan menyatakan masalah. 10) kemampuan mendesain prosedur eksperimen.
Kebaikan ini adalah yang paling menonjol dalam penggunaan tipe tes uraian. Tidaklah dengan sendirinya tes tipe uraian menghasilkan pengukuran basil belajar yang kompleks. Masih sangat tergantung kepada kemampuan dosen untuk mengkonstruksi butir soal uraian. Bahkan kita tidak jarang menemui adanya butir soal uraian yang menanyakan hal yang sederhana, yang sebenamya jauh lebih efektif bila dites dengan menggunakan butir soal objektif.
b. Tes bentuk uraian terutama menekankan kepada pengukuran kemampuan dan keterampilan mengintegrasikan berbagai buah pikiran dan sumber infonnasi ke dalam suatu pola berpikir tertentu, yang disertai dengan keterampilan pemecahan masalah. Integrasi bush pikiran itu membutuhkan dukungan kemampuan untuk mengekspresikannya. Tanpa dukungan kemampuan mengekspresikan buah pikiran secara teratur dan taatasas, maka kemampuan tidak dapat terlihat dengan baik. Bahkan sebaliknya kemampuan itu akan kelihaian dengan jelas dari susunan kalimat, dan kemampuan menyusun paragraf yang baik.
c. Bentuk tes uraian lebih meningkatkan motivasi peserta tes untuk belajar dibandingkan bentuk tes yang lain. Sesuai dengan sifatnya yang menuntut kemampuan mahasiswa amok mengekspresikan jawaban dalam kata-kata sendiri, maka bentuk tes uraian menuntut penguasaan bahan secara penuh. Penguasaan bahan yang tanggung dapat dideteksi dengan mullah. Karma itu amok menjawab tes uraian dengan baik peserta tes akan benisaha menguasai bahan yang diperkirakannya akan diujikandalam tes secaratuntas. Karena keseluruhan bahan sangat luas dan tidak mungkin dapat dikuasai dengan baik selunihnya, makabiasanya peserta tes terpaksa menebak bagian bahan yang diperkirakan akan keluar dalam soal ujian.
d. Kelebihan lain tes uraian ialah memudahkan down amok menyusun butirsoal. Kemudahan ini terutama disebabkan oleh dua hal, pertama, jumlah butir coal tidak perlu banyak, dan kedua, down tidak selalu harus memasok jawaban atau kemungkinan jawaban yang benar. Kelebihan ini terutama yang acapkali mendorong down amok menggunakan bentuk butir soal ini. Jadi motifnya tidak terlalu sehat. Apa lagi bila kemudahan menyusun budrsoalbentukuraianitudipedakukansecarakurangbertanggung jawab, atau karma desakan pekerjaan rangkap lainnya.
e. Tes uraian sangat menekankan kemampuan menulis. Hal ini merupakan kebaikan, sekaligus kelemahannya. Dalam arti yang positif tes uraian akan sangat mendorong mahasiswa dan down untuk belajar dan mengajar menyatakan pikiran secara tertulis. Dengan demikian diharapkan kemampuan peserta didik dalam menyatakan pikiran secara tertulis akan meningkat. Tetapi dilihat dari segi lain, penekanan yang berlebihan terhadap penggunaan tes uraian yang sangat menekankan kepada kemampuan menyatakan pikiran dalam bentuk tulisan ini dapat menjadikan tes sebagai alat ukur yang tidak adil dan tidak reliabel. Karena tekanan yang berlebihan pads aspek kemampuan menulis itu, akan menjadi penghalang bagi peserta didik yang memang tidak mempunyai kemampuan dalam bidang itu, walaupun si peserta didik tersebut menguasai bahan yang diujikan. Selain itu, tidak semua ilmu dan pengetahuan yang diajarkan di sekolah menuntut adanya kemampuan menyatakan pikiran dalam bentuk tertulis.
Kelemahan tes uraian/esai
Tes uraian juga mengandung kelemahan yang serius. Beberapa kelemahan pokok tersebut adalah:
a. Reliabilitas tes rendah. Artinya skor yang dicapai oleh peserta tes tidak konsisten bila tes yang sama atau tes yang paralel diuji ulang beberapa kali. Robert L. Ebel dan David A. Frisbie (1986, ha1.129) mengidentifikasi adanya tiga penyebab rendahnya reliabilitas tes uraian. Pertama, keterbatasan sampel bahan yang tercakup dalam soal tes. Karena sifat jawaban tes uraian menuntut waktu yang relatif banyak, maka tidak mungkin perangkat tes uraian terdiri dari butir soal yang banyak jumlahnya sehingga mewakili seluruh bahan yang akan diujikan. Hal ini berarti bahwa pokok bahasan yang dapat diambil sebagai bahan tes sangat terbatas. Jadi tidak mungkin mewakili seluruh bahan secara baik dalam liputan bahan tes. Kedua, Batas-Batas tugas yang harus dikerjakan oleh peserta tes sangat longgar, walaupun telah diusahakan untuk menentukan batasan-batasan yang cukup ketat. Keragaman jawabanantarpeserta tes tetap saja akan besar. Keragaman itu tidak hanya terjadi antara peserta tes, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan, waktu, bahkan suasana tes yang ada. Tes yang sama diuji pada pagi hari, di mana pada umumnya saat itu peserta tes masih segar akan menghasilkan skor yang berbeda bila tes itu diujikan sore harinya. Dan ketiga, penyebab rendahnya reliabilitas tes itu adalah subyektivitas penskoran yang dilakukan oleh pemeriksa tes. Berbeda orang yang memeriksa, maka berbeda pula skor yang diperoleh peserta tes. Bahkan orang yang sama memeriksa tes yang sama pads waktu yang berbeda akan menghasilkan skor yang berbeda pula.
b. Untukmenyelesaikan tes uraian dengan baik dosen dan mahasiswa harusmenyediakanwaktucukupbanyak. Waktumahasiswahanislah cukup banyak ketika mengerjakan tes. Sedangkan dosen hams menyediakan waktu yang banyak untuk memeriksa. Bila kedua waktu ini tidak dapat diadakan, maka sebaiknya tes uraian tidak digunakan, karena tes uraian yang tidak diperiksa dengan teliti tidak dapat menjadi slat ukur pendidikan yang efektif.
c. Jawaban peserta tes kadang-kadang disertai dengan bualan. Peserta tes yang kurang menguasai bahan yang diujikan acapkali jugs mencoba menjawab dengan menguraikan hal lain yang tidak berhubungan dengan hal yang ditanyakan atau dengan kata lain peserta tes membual. Jawaban yang tidak befiarga inipun hares dibaca oleh dosen dengan teliti.
d. Kemampuan menyatakan pikiran secara temilis menjadi hal yang paling membedakan prestasi belajar antar mahasiswa. Padahal hanya hasilbelajaryangtertentu sajalahyangharusdikomunikasikan dalam bentuk tertulis. Sebagian besar hasil belajar lain dinyatakan dalam bentuk tingkah lake atau sikap, bukan dalam bentuk pemyataan tertulis.
Penggunaan tes uraian/esai
• Bila jumlah mahasiswa atau peserta ujian terbatas maka soal uraian dapat digunakan karena masih mungkin bagi dosen untuk dapat memeriksa/menskor hasil ujian tersebut secara baik. Bila peserta ujian terlalu banyak, misalnya lebih dari seratus (100) orang, maka akan menyita waktu dosen terlalu banyak, sehingga penggunaan soal uraian menjadi tidak efisien lagi.
• Bila waktu yang dipunyai dosen untuk mempersiapkan soal sangat terbatas, sedangkan is mempunyai waktu yang cukup untuk memeriksa hasil ujian, maka soal uraian dapat digunakan. Secara relatif, waktu yang dibutuhkan untuk mengkonstruksi butir soal uraian tidak terlalu banyak.
• Bila tujuan instniksional yang ingin dicapai adalah kemampuan mengekspresikan pikiran dalam bentuk tertulis, menguji kemampuan menulis dengan baik, atau kemampuan penggunaan bahasa secara tertib, maka haruslah menggunakan tes uraian.
• Bila dosen ingin memperoleh informasi yang tidak tertulis-secara langsung di dalam soal ujian tetapi dapat disimpulkan dari tulisan peserta tes, seperti sikap, nilai, atau pendapat. Soal uraian dapat digunakan untuk memperoleh informasi tidak langsung tersebut, tetapi hares digunakan dengan sangat hati-hati oleh dosen.
• Bila dosen ingin memperoleh hasil pengalaman belajar mahasiswanya, maka tes tipe uraian merupakan salah sate bentuk yang paling cocok untuk mengukur pengalaman belajar tersebut.
Klasifikasi Tes Uraian/Esai
Tes tipe uraian secara umum dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu tes uraian bebas (extended response) dan tes uraian terbatas (restricted response). Pembedaan kedua jenis tes uraian ini adalah atas dasar besarnya kebebasan yang diberikan kepada peserta tes untuk mengorganisasikan, menulis dan menyatakan pikiran dan gagasannya.
a. Tes uraian bebas (Extended response).
Dalam soal tes uraian bebas hampir-hampir tidak ada pembatasan terhadappesertates dalam memberikan jawabannya. Pesertates memiliki kebebasan yang leas sekali untuk mengorganisasikan dan mengekspresilcanpikirandangagasannyadalammenjawabsoaltersebut. Jadi dengan demikian jawaban mahasiswa bersifat terbuka, fleksibel, dan tidak terstruktur. Contoh butir coal uraian bebas:
Uraikanlah peranan pemuda dalam perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia sejak tahun 1908 sampai dengan tahun 1928. Dalam uraian Anda hendaknya terdapat contoh-contoh organisasi pemuda yang aia pada masa itu beserta para pemimpinnya. Uraian Anda hendaknya tidak melebihi 2 halaman.
Untuk dapat menjawab butir soal ini dengan baik, maka peserta tes haius memiliki kemampuan mengingat faktahistoris sekitarperjuangan kemerdekaan kemudian memilih fakta yang terpenting di antara semua fakta yang akan mendukung argumentasi jawabannya. Setelah itu is harus mengorganisasikan dalam pikirannya fakta dan menyusunnya dalam suatu uraian yang logis dan dengan menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh orang lain. Dengan kata lain dalam menjawab tes uraian bebas, seorang peserta ujian hares mulai dengan pengetahuan yang bersifat faktual, kemudian mengevaluasi fakta yang dimilikinya, mengorganisasikan fakta pilihannya itu ke dalam suatu susunan yang logis, dan akhirnya menyajikannya dalam suatu uraian naratif yang dapatdimengertioranglain. Kalaupunadabatasanhanyalahpanjangnya uraian yang ditentukan oleh pembuat butir soal. Pembatasan seperti itu sangat diperlukan sehingga is dapat memperkirakan waktu yang hares disediakannya untuk memeriksa jawaban pesecta ujian. Peserta ujian sepenuhnya diberi kebebasan untuk menjawab menurut gaga bahasa dan gaya kognitifnya masing-masing. Dengan demikian maka jelaslah keterampilan mengekspresikan pikiran dalam bentuk tertulis akan besar sekali kontribusinya dalam menjawab soal ujian tipe ini. Butir soal jenis ini baik digunakan untuk mengukurhasil belajar pada tingkat aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
b. Tes Uraian Terbatas (Restricted Response)
Dalam menjawab tes uraian terbatas, peserta tes lebih dibatasi oleh berbagai rambu-rambu yang ditentukan dalam budr soal. Keterbatasan itu mencakup format, isi, dan ruang lingkup jawaban. Jadi soal tes uraian terbatas ini hares menentukan batas jawaban yang dikehendaki. Batas itu meliputi konteks jawaban yang diinginkan, jumlah befit jawaban yang diharapkan, keluasan uraian jawaban, arch dan leas jawaban yang diminta. Misalnya:
GBHN menentukan bahwa ada delapan jalur pemerataan pembangunan. Sebutkanlah kedelapan jalur pemerataan pembangunan tersebut secara berurutan. Pilihlah salah satu jalur pemerataan yang Anda kuasai, definisikan artinya dan berilah tiga contoh pelaksanaannya dalam bidang ekonomi. Uraian Anda diharapkan tidak lebih dari satu halaman.
Untuk menjawab butir soal ini peserta tes jauh lebih terikat bila dibandingkan dengan contoh terdahulu. Dalam coal tes uraian jenis ini peserta tes tidak dapat memilih dengan bebas penyajiannya. Ia harus mengikuti instruksi butir soal untuk menjawab. Tetapi peserta tes tetap mempunyai kebebasan untuk memberikan jawabannya menurut pola kognitifnya sendiri> dan jugaia mempunyai kebebasanmengekspresikan jawaban dalam gayanya sendiri. Karma bentuk jawaban yang dituntut, butir soal jenis uraian terbatas sebaiknya digunakan untuk mengukur hash belajar tingkat pemahaman, aplikasi, dan analisis.
Tes uraian dapat pula diklasifikasi dalam kategori yang lain seperti yang dilakukan oleh W.S. Monroe dan R.E. Carter (1923) yang membedakan 20 jenis butir soal tes uraian, yaitu butir soal yang:
1) bersifat ingatan yang terpilih.
Misalnya: Sebutkanlah tiga cars mencegah erosi di lahan kritis.
2) bersifat ingatan evaluatif.
Misalnya: Sebutkanlah nama dua tokoh yang paling besar peranannya dalam pembaharuan Islam di Indonesia dalam abad keduapuluh.
3) membandingkan dua hat terbatas:
Misalnya: Bardingkanlah taktik dan strategi perjuangan mencapai kemerdekaan antara Ir. Soekamo dan Drs. Moh. Hatta.
4) membandingkan dua hal secara umum:
Misalnya: Bandingkanlah binatang pemakan tumbuh-tumbuhan dengan binatang buas.
5) mengambil keputusan, baik dalam arti menentang ataumendukung sesuatu.
Misalnya: Apakah sebaiknya hukuman mati diterapkan dalam negara yang berdasarkan Pancasila? Berikan alasan pendapat Anda.
6) menguraikan sebab akibat.
Misalnya: Apakah sebabnya tumbuhtumbuhan yang selalu terlindung dari sinar matahari kelihatan kuius dan kemudian mati?
7) menjelaskanpenggunaanataupengerbiansuatufrasaataupernyataan dalam suatu karangan.
Misalnya: Definisikan arti frasa "makan had" dalam kalimat
berikut ini. "Ibu tea itu selalu makan hati melihat
kelakuan anaknya".
8) meringkas suatu karangan yang telah dibaca.
Misalnya: Uraikanlah secara singkat siklus air (tidak lebih d~ri 100 kata).
9) menganalisis.
Misalnya: Dalam setiap perundingan antara Republik Indonesia dengan Belanda pada masa perjuangan mempertahan kemerkedaan Indonesia, Belanda selalu mengusulkan agar Indonesia berbentuknegara serikat. Alasan-alasan politis apakah yang mendasari usul Belanda tersebut?
10) menyatakan hubungan.
Misalnya: Apakah sebabnya rumah hares mempunyai ventilasi yang cukup?
11) memberi ilustrasi atau contoh.
Misalnya: Berilah dua contoh tindakan manusia yang menyebabkan terganggunya kesaimbangan alam.
12) mengklasiflkasi (biasanya kebalikan dari nomor 11)
Misalnya: Masuk golongan apakah binatang berikut ini? Sapi, kerbau, kambing, kijang, rusa, jerapah. Beri alasan.
13) menerapkan prinsip atau aturan ke dalam suatu situasi bane.
Misalnya: Andaikan ada sebuah balon diisi dengan gas ringan, kemudian dilepaskan dalam sebuah kamar. Balon tersebutmengambang diantaralantai danlangit-langit. Bila kemudian gas dalam baton tersebut dipanaskan
apakah yang akan terjadi?
14) membahas sesuatu:
Misalnya: Bahaslah hubungan antara panjang tangkai suatu pendulum dengan jangka waktu berayunnya.
15) menyatakan maksud atau tujuan:
Misalnya: Tulislah interpretasi Anda secara singkat apa maksud pengarang sajak "Aku" menyatakanbahwa"Aku ingin hidup seribu tahun lagi"?
16) mengeritik secara tepat, teipercaya, dan relevan.
Misalnya: Coba tulis kritik atau pertahankan pendapat yang menyatakan bahwa semua bakteri berbahaya bagi kesehatan manusia.
17) membuat garis besar.
Misalnya: Tulislah secara garis besamya cara amok menghitung hargasatuan suhu dari skala Celsiuske skala Fahrenheit.
18) mengorganisasi ulang (reorganisasi) fakta.
Misalnya: Telusurilah kembali perkembangan bahasa Indonesia dari bahasa Melayu sehingga menjadi bahasa negara dan bahasa pengantar di Nusantara.
19) menimuskanpermasalahanataupertanyaandaribeberapakenyataan atau asumsi yang ditegakkan terlebih dahulu.
Misalnya: Dalam keadaanyangbiasa (normal) tumbuh-tumbuhan yang bare ditanam akan tumbuh dengan pucuk mengarah ke atas dan akar mengarah ke bawah. Dapatkah Anda jelaskan bila keadaan tersebut tidak berlaku? Tuliskan persyaratan yang hares dipenuhi
20) menyatakan metoda atau prosedur baru.
Misalnya: Kenyataan menunjukkan bahwa laju peningkatan penduduk di Indonesia masih berkisar antara 1,5% sampai dengan 2,0% untuk masa 25 tahun mendatang, dan laju pertumbuhan ekonomi kits akan berkisar antara 2% sampai dengan 5%. Rumuskanlah tiga masalah pokok yang akan timbal pada awal abad ke 21 yang akan datang di Indonesia.
Ada beberapa ragam tes uraian terbatas, antara lain ragam tes melengkapi dan ragam tes jawaban singkat.
1) Butir Soal Tipe Jawaban Melengkapi
Yang dimaksud dengan bath coal melengkapi adalah bath soal yangmeminta atau memerintahpeserta untukmelengkapi suatu kalimat dengan sate frasa, sate angka atau sate formula.
a) Kekuatan dan Keterbatasan
Butir soal tipe jawaban melengkapi banyak digunakan dalam tes matematik untuk pendidikan dasar, tenitama pada butirsoal yang hanya membutuhkan operasi sederhana, seperti menjumlah, mengurangi, membagi, dan mengali angka sate atau dua digit tanpa angka pecahan. Tipe bath soal ini juga baik digunakan untuk menguji kemampuan mengingat fakta dan prinsip yang sederhana. Selain itu tipe bath soal ini juga dapat digunakan untuk menguji kemampuan pada tingkatan yang lebih tinggi, seperti pemahaman, aplikasi, bahkan evaluasi, asalkan dikonstruksi secara hati-hati.
Kekuatan utama butir soal tipe melengkapi ini adalah mudah dikonstruksi. Dalam waktu yang relatif singkat dapat dikonstniksi sejumlahbutirsoal. Dengandemikianbutirsoal tipe ini dapatmembantu dosen yang hares mempersiapkan butir soal dalam waktu yang singkat, tanpa mengorbankan mute butir soal. Penggunaan tipe butir soal melengkapi ini akan mampu menguji sebagian besar pokok bahasan dalam waktu yang relatif singkat.
Butir soal tipe jawaban melengkapi ini tentu mempunyai keterbatasan-keterbatasan. Keterbatasan utamanya adalah tidak dapat menguji semua tingkat kemampuan hasil belajar. Karena sifatnya yang membatasi jawaban pada sate kata, frasa, angka atau formula maka tidak mungkin tes seperti itu mampu mengukur kemampuan mengekspresikan pikiran atau memformulasi pendapat secara tepat. Butir soal tape ini terlalu menekankan pada kemampuan mengingat, sehinggahasil tes tidak akan menggambarkankeseluruhankemampuan hasil belajar.
b) Beberapa petunjuk penulisan butir soal tipe jawaban melengkapi
Untuk memperoleh butir soal tipe jawaban melengkapi yang baik,
maka beberapa petunjuk berikut ini diharapkan akan membantu:
(1) Konsultasilah butir soal yang mengukur hasil belajar yang penting saja. Hasil belajar yang remeh (trivial) tidak perlu diujikan. Misalnya:
Lemah Jumlah bayi yang meninggal sebelum mencapai usia enam tahun di kecamatan ini tahun lalu adalah ...
Lebih baik Di Kecamatan ini jumlah bayi yang meninggal sebelum mencapai usia lima tahun dalam dua tahun terakhir adalah... untuk setiap seribu penduduk.
(2) Konstruksilah butir soal yang mengandung permasalahan yang bersifat spesifik. Butir soal itu haruslah menjamin bahwa hanya peserta tes yang menguasai isi pelajaran yang dapat menjawab soal itu dengan baik. Misalnya:
Lemah Daun tembakau mengandung ...
Lebih baik : Bahan yang berbahaya bagi kesehatan yang terdapat dalam dawn tembakau adalah ...
(3) Konstruksilah butir soal yang menghaniskan peserta memberi jawaban yang secara faktual benar. Misalnya:
Lemah Orang merokok akan ...
Lebih baik : Kebiasaan merokok akan menyebabkan penyakit ...
(4) Konstruksilah butir soal dengan menggunakan bahasa yang jelas, dan tidak mengandung arti yang mendua. Misalnya:
Lemah Ibu kota Kuwait yang diduduki Irak adalah ...
Lebih baik : lbu kota Kuwait adalah ...
(5) Bila yang ditanyakan menyangkut angka atau jumlah dari satu satuan tertentu, maka sebaiknya nyatakan satuan tersebut dalam soal. Misalnya:
Lemah Seorang anak umur 12 tahun sebaiknya setiap hari minum susu ...
Lebih baik : Seorang anak umur 12 tahun sebaiknya setiap hari minuet susu mumi .., gelas.
(6). Setiap butir soal sebaiknya hanya berisi satu jawaban yang harus dikerjakan oleh peserta tes. Misalnya:
Lemah Suatu propinsi dibagi menjadi beberapa ..., yang selanjutnya dibagi lagi menjadi beberapa ..., dan kemudian dibagi lagi menjadi beberapa ..., dan akhirnya unit terkecil disebut ... .
Lebih baik : Propinsi Jawa B arat dibagi menjadi ... kabupaten dan
kota madya
a). Kekuatan dan Keterbatasan
Butir coal tipe jawaban singkat ini termasuk salah satu tipe yang paling mudah dikonstruksi. Hal ini terutama disebabkan oleh butir soal ini hanya akan mengukur hash belajar yang sederhana, yaitu yang bersifat ingatan. Hanya balk digunakan untuk mengukur
kemampuan pemecahan masalah untuk bidang Matematik dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Kekuatan lainnya butir soal tipe ini ialah mengharuskan peserta tes menulis jawabannya, bukan memilih jawaban yang telah tersedia. Dengan demikian maka akan dapat meminimalkan kemungkinan menebak.
Ada dua keterbatasan utama butir soal tipe jawaban singkat ini, yaitu tidak dapat mengukur hash belajar yang kompleks dan sulit dinilai. Karena sifatnya yang sederhana, maka butir soal tape ini hanya menghasilkan respons singkat yang sederhana. Respons singkat yang seperti itu tidak memungkinkan untuk mengukur hash belajar yang lebih kompleks. Kebanyakan hanya terbatas pada hash belajar yang bersifat ingatan, dan paling tinggi hanya bersifat pemahaman. Untuk matematika atau IPA masih mungkin untuk mengukur kemampuan penerapan (aplikasi). Di atas kemampuan itu sudah tidak mungkin lagi diukurdengan butirsoal tipe ini. Berkenaan dengan kesederhanaannya itu maka acapkali menimbulkan keterbatasan kedua, yaitu sulit dinilai. Hanya butir soal yang dikonstruksi secara hati-hati yang tidak menimbulkan masalah ini. Misalnya:
Berapakah jumlah propinsi di Indonesia?
Jawaban terhadap pertanyaan ini masih mungkin sekali beragam. Jawabannya mungkin saja berkisar antara 8 (delapan) sampai dengan 27 (dua puluh tujuh), tergantung pada waktunya . Pada tahun 1945 , Indonesia terdiri dari 8 propinsi, sedangkan sekarang negara kits terdiri dari 27 propinsi. Mungkin dalam beberapa tahun yang akan datang men jadi 29 propinsi, . bila Irian Jaya telah diperluas menjadi tiga propinsi. Jadi soal yang seperti itu sebaiknya lebih disempumakan menjadi:
Berapakah jumlah propinsi di Indonesia pada tahun 1990?
Soal terakhir ini tidak menimbulkan kesulitan dalam penskorannya. Penulisan soal seperti ini memang menuntut kehati-hatian dari dosen, karena biasanya dosen sutra mengasumsikan saja bahwa peserta tes mengetahui apa yang dimaksudkan oleh dosen, sehingga merasa tidak perlu dituliskan dalam soal. Inilah letak kelemahannya.
b). Klasifikasi butir soal jawaban singkat
Secara umum ada dua variasi butirsoal tipe jawaban singkat, yaitu: (1) yang menggunakan bentuk pertanyaan, dan (2) yang menggunakan bentuk asosiasi. Contoh yang menggunakan bentuk pertanyaan artalah:
Siapakah pendiri kerajaan Majapahit?
Apakah kota suci umat Islam yang terpenting?
x + 2 = 4. Berapa x?
Bagaimanakah formula asam sulfat?
Contoh yang menggunakan bentuk asosiasi adalah: Apakah nama ibu kota propinsi berikut?
Irian Jaya
Aceh
Timor Timur
Bengkulu
c). Beberapa petunjuk konstruksi butir soal tipe jawaban singkat
Berikut ini beberapa petunjuk untuk menulis butir soal jawaban singkat, yang disertai contoh sederhana.
(1) Pergunakanlah kata-kata yang menuntut jawaban yang singkat
dan tertentu. Jawaban itu haruslah satu kata, satu frasa, sebuah
angka, atau sebuah simbol. Misalnya:
Lemah : Disebut apakah binatang pemakan binatang lain dan tumbuh-tumbuhan?
Lebih baik : Termasuk klasifikasi apakah binatang pemakan binatang lain dan tumbuh-tumbuhan?
(2) Jangan menggunakan kalimat yang langsung diambil dari buku atau dari catatan. Penggunaan kalimat yang langsung diambil dari buku atau catatan cenderung mendorong peserta didik akan menghafal mad, tanpa berusaha memahami apa yang dipelajarinya. Untuk menghindari kelemahan itu maka sebaiknya bahan ajaran yang diambil dari buku tersebut disusun kembali dalam kalimat yang mudah dipahami oleh mahasiswa.
(3) Jangan sampai pertanyaan yang diajukan menjadi tes bahasa, sedangkan maksudnya untuk menguji mated pelajaran lain. Misal:
Lemah : Apakahistilahyangdigunakanuntukmenyatakan kedatangan Columbus ke Benua Amerika tahun 1492?
Lebih baik : Sipakah yang menemukan benua Amerika tahun 1492?
(4) Untuk menanyakan istilah atau defmisi sebaiknya digunakan kalimat tanya secara langsung. Kalimat lain yang mendahului kalimat tanya, yang dimaksudkan untuk menjelaskan pertanyaan, acapkali mengakibatkan pertanyaanmenjadi kabur. Misalnya:
Lemah : Setiap mahasiswa hares mentaati peraturan sekolah. Ketaatan kepada aturan sekolahitu dalam P4 apa namanya?
Lebih baik : Sikapyangmenganjurkanmemeliharakebersihan kelas sesuai dengan Sila keberapa dari Pancasila?
Kamis, 03 November 2011
Berserah Diri Bukan Pasrah
Di Zaman yang serba sulit dimana permasalahan hidup semakin rumit dan komplek terkadang tidak sedikit sebagian dari kita putus asa dan cenderung pasrah kepada nasib yang sedang menimpa, meskipun kita semua tahu bahwa tidak ada masalah serius yang tidak ada jalan keluarnya kalau kita mau berusaha, tapi kebanyakan orang kurang sabar dan terburu-buru ingin segera keluar dari permasalahan hidup yang sedang terjadi akibatnya mengambil jalan pintas yang berakibat fatal dengan tidak tercapainya tujuan atau malah cenderung pasrah pada nasib.
Kata Berserah diri dan pasrah kalau dilihat hampir mempunyai kemiripan akan tetapi memiliki makna yang sangat jauh berbeda, sikap berserah diri adalah sebuah sikap yang menyerahkan segala sesuatu kepada sang pencipta setelah seseorang melakukan perjuangan atau berusaha secara maksimal karena sadar sebagai hamba tidak pernah akan bisa menentukan hasil dari aktifitas pekerjaannya hasil yang menentukan adalah Sang pencipta, tetapi tidak lepas dari kerja keras manusia. Sedangkan pasrah adalah sebuah sikap atau perbuatan dengan balutan putus asa sehingga ada kecenderungan berserah total pada apa yang akan dia terima tanpa berusaha memperjuangkannya.
Sebagai Manusia kita bebas memilih dari kedua sikap tersebut tapi alangkah baiknya kalau kita menjatuhkan pilihan kita kepada sikap berserah diri bukan pasrah, sekali lagi tidak ada Masalah yang berat yang tidak ada jalan keluarnya ketika kita mau berusaha dan bekerja keras untuk menyelesaikannya
Rabu, 13 Juli 2011
Keterampilan Dasar Komputer untuk anak
Komputer dan teknologi adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita melihat mereka di tenaga kerja, di rumah, dan di sekolah-sekolah. Seorang anak akan mulai belajar keterampilan komputer ketika mereka mulai sekolah . Ada keterampilan penting anak-anak perlu diajarkan ketika mereka mulai menggunakan komputer. Dasar-dasar ini mengajar anak-anak cara mengoperasikan dan menggunakan komputer dengan benar.
Komponen Komputer
Sebelum mulai mengajar anak-anak cara menggunakan komputer, mereka harus terlebih dahulu mempelajari komponen dari sebuah komputer. Hal ini termasuk mouse, keyboard, dan monitor. Mengajar anak-anak bagaimana mengubah komputer dan monitor on dan off memastikan bahwa mereka benar merawat komputer. Ketika mengajar anak-anak tentang mouse, penting untuk mengajarkan mereka bagaimana untuk double klik sehingga begitu mereka belajar bagaimana menggunakan komputer, mereka memahami bagaimana cara untuk membuka program.
Terminologi yang tepat
Ketika seorang anak mulai untuk mendapatkan dasar-dasar komputer, penting untuk mengajarkan mereka terminologi yang benar. Yang penting mereka belajar istilah yang tepat untuk komponen komputer dan penggunaan komputer. Hal ini memastikan ketika anak-anak belajar keterampilan komputer yang lebih maju, mereka sudah akan memiliki pemahaman terminologi komputer.
KeterampilanKeyboarding
Pengajaran keterampilan keyboard mungkin lebih sulit jika anak masih sangat muda, tapi sangat penting untuk menunjukkan penempatan tangan yang benar pada keyboard. Jika anak-anak diajarkan penempatan tangan yang benar dari awal, mereka tidak akan perlu kembali diajarkan cara yang benar setelah mereka mulai bersekolah. Jika tangan anak Anda kecil, Anda dapat berinvestasi di keyboard berukuran anak-anak yang lebih cocok bagi mereka untuk belajar di.
Software, Program, dan Permainan Pengajaran
Mengajar anak Anda bagaimana benar menggunakan perangkat lunak sangat penting. software Loading benar akan mengajarkan anak-anak bagaimana tidak merusak cakram atau disc drive. Mengajar anak-anak bagaimana menggunakan program komputer akan meningkatkan pengetahuan mereka tentang bagaimana melakukan hal-hal seperti jenis dalam program pengolah kata.
World Wide Web
Mengajar anak-anak cara mengakses World Wide Web membawa mereka ke banyak informasi. Untuk mulai mengajar anak-anak tentang World Wide Web, mulai dengan mengajar mereka tentang browser. Belajar bagaimana membuka browser, bagaimana benar mengetik alamat web, dan bagaimana untuk mencari item di web sangat penting untuk menggunakan World Wide Web. Untuk memastikan keamanan anak-anak di web, dana pastinya beberapa komputer harus dalam status savety for kids.
Komponen Komputer
Sebelum mulai mengajar anak-anak cara menggunakan komputer, mereka harus terlebih dahulu mempelajari komponen dari sebuah komputer. Hal ini termasuk mouse, keyboard, dan monitor. Mengajar anak-anak bagaimana mengubah komputer dan monitor on dan off memastikan bahwa mereka benar merawat komputer. Ketika mengajar anak-anak tentang mouse, penting untuk mengajarkan mereka bagaimana untuk double klik sehingga begitu mereka belajar bagaimana menggunakan komputer, mereka memahami bagaimana cara untuk membuka program.
Terminologi yang tepat
Ketika seorang anak mulai untuk mendapatkan dasar-dasar komputer, penting untuk mengajarkan mereka terminologi yang benar. Yang penting mereka belajar istilah yang tepat untuk komponen komputer dan penggunaan komputer. Hal ini memastikan ketika anak-anak belajar keterampilan komputer yang lebih maju, mereka sudah akan memiliki pemahaman terminologi komputer.
KeterampilanKeyboarding
Pengajaran keterampilan keyboard mungkin lebih sulit jika anak masih sangat muda, tapi sangat penting untuk menunjukkan penempatan tangan yang benar pada keyboard. Jika anak-anak diajarkan penempatan tangan yang benar dari awal, mereka tidak akan perlu kembali diajarkan cara yang benar setelah mereka mulai bersekolah. Jika tangan anak Anda kecil, Anda dapat berinvestasi di keyboard berukuran anak-anak yang lebih cocok bagi mereka untuk belajar di.
Software, Program, dan Permainan Pengajaran
Mengajar anak Anda bagaimana benar menggunakan perangkat lunak sangat penting. software Loading benar akan mengajarkan anak-anak bagaimana tidak merusak cakram atau disc drive. Mengajar anak-anak bagaimana menggunakan program komputer akan meningkatkan pengetahuan mereka tentang bagaimana melakukan hal-hal seperti jenis dalam program pengolah kata.
World Wide Web
Mengajar anak-anak cara mengakses World Wide Web membawa mereka ke banyak informasi. Untuk mulai mengajar anak-anak tentang World Wide Web, mulai dengan mengajar mereka tentang browser. Belajar bagaimana membuka browser, bagaimana benar mengetik alamat web, dan bagaimana untuk mencari item di web sangat penting untuk menggunakan World Wide Web. Untuk memastikan keamanan anak-anak di web, dana pastinya beberapa komputer harus dalam status savety for kids.
Filosofi Hidup Jawa
1. URIP IKU URUP
Hidup itu nyala, hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita
2. MEMAYU HAYUNING BAWANA, AMBRASTA DUR HANGKARA
Harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak
3. SURA DIRA JAYA JAYANINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI
Segala sifat keras hati, picik, angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar
kemarahan dan kebencian akan lebur dengan kelembutan
kemarahan identik dengan kekerasan, kebencian identik dengan pertentangan, gabungan keduanya menimbulkan perpecahan, permusuhan, pertikaian, perebutan, penghancuran dan lain-lain.
kelembutan identik dengan kedamaian, pertemanan, persahabatan dan ketenangan.
dengan kelembutan, maka perasaan marah, benci akan terkikis. pertikaian terhapus menjadi persahabatan, pertentangan menjadi ketenangan dan permusuhan menjadi kedamaian.
4. NGLURUK TANPA BALA, MENANG TANPA NGASORAKE, SEKTI TANPA AJI-AJI, SUGIH TANPA BANDHA
Berjuang tanpa perlu membawa massa, Menang tanpa merendahkan/mempermalukan, Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan/kekuatan/kekayaan/keturunan, Kaya tanpa didasari hal-hal yang bersifat materi
5. DATAN SERIK LAMUN KETAMAN, DATAN SUSAH LAMUN KELANGAN
Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri, Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu
6. AJA GUMUNAN, AJA GETUNAN, AJA KAGETAN, AJA ALEMAN
Jangan mudah terheran-heran, Jangan mudah menyesal, Jangan mudah terkejut dengan sesuatu, Jangan kolokan atau manja
7. AJA KETUNGKUL MARANG KALUNGGUHAN, KADONYAN LAN KEMAREMAN
Janganlah terobsesi atau terkungkung dengan kedudukan, materi dan kepuasan duniawi
8. AJA KUMINTER MUNDAK KEBLINGER, AJA CIDRA MUNDAK CILAKA
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka
9. AJA MILIK BARANG KANG MELOK, AJA MANGRO MUNDAK KENDHO
Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah dan jangan berfikir gamang/plin-plan agar tidak kendor niat dan kendor semangat
10. AJA ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA
Jangan sok kuasa, sok besar/kaya, sok sakti
Hidup itu nyala, hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita
2. MEMAYU HAYUNING BAWANA, AMBRASTA DUR HANGKARA
Harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak
3. SURA DIRA JAYA JAYANINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI
Segala sifat keras hati, picik, angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar
kemarahan dan kebencian akan lebur dengan kelembutan
kemarahan identik dengan kekerasan, kebencian identik dengan pertentangan, gabungan keduanya menimbulkan perpecahan, permusuhan, pertikaian, perebutan, penghancuran dan lain-lain.
kelembutan identik dengan kedamaian, pertemanan, persahabatan dan ketenangan.
dengan kelembutan, maka perasaan marah, benci akan terkikis. pertikaian terhapus menjadi persahabatan, pertentangan menjadi ketenangan dan permusuhan menjadi kedamaian.
4. NGLURUK TANPA BALA, MENANG TANPA NGASORAKE, SEKTI TANPA AJI-AJI, SUGIH TANPA BANDHA
Berjuang tanpa perlu membawa massa, Menang tanpa merendahkan/mempermalukan, Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan/kekuatan/kekayaan/keturunan, Kaya tanpa didasari hal-hal yang bersifat materi
5. DATAN SERIK LAMUN KETAMAN, DATAN SUSAH LAMUN KELANGAN
Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri, Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu
6. AJA GUMUNAN, AJA GETUNAN, AJA KAGETAN, AJA ALEMAN
Jangan mudah terheran-heran, Jangan mudah menyesal, Jangan mudah terkejut dengan sesuatu, Jangan kolokan atau manja
7. AJA KETUNGKUL MARANG KALUNGGUHAN, KADONYAN LAN KEMAREMAN
Janganlah terobsesi atau terkungkung dengan kedudukan, materi dan kepuasan duniawi
8. AJA KUMINTER MUNDAK KEBLINGER, AJA CIDRA MUNDAK CILAKA
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka
9. AJA MILIK BARANG KANG MELOK, AJA MANGRO MUNDAK KENDHO
Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah dan jangan berfikir gamang/plin-plan agar tidak kendor niat dan kendor semangat
10. AJA ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA
Jangan sok kuasa, sok besar/kaya, sok sakti
Minggu, 26 Juni 2011
Understanding Literature
More than two thousand years ago, the Roman poet Horace claimed that literature is "sweet" and "useful." Since then, literature has been traditionally understood, at least in Western cultures, as having the dual purpose of entertaining and educating its audience. Literary texts are constructed in effect as objects of beauty, sources of pleasure and as conveyors of messages and information. While authors often claim no practical purpose for their works, all literature constitutes an attempt at persuasively conveying certain values and ideas. The entertaining and beautiful aspect of literary works acts in reality as part of the appeal and attractiveness which the work tries to attach to the ideas which it seeks to convey. The beauty of literature is therefore a part of its rhetoric, a device intended to strengthen the overall persuasiveness and influence of the work on its audience. While the entertaining aspect of literature may be rather obvious, understanding the ideas or values which a text advances is not always a simple task. Part of the problem is the fact that the ideas of a literary text are almost always presented in indirect or "symbolic" form. Take for example the following very simple narrative:
The Dog and the Piece of Meat
A dog carrying a piece of meat in his mouth was crossing a river when he suddenly saw his own reflection in the water. Mistaking the image for another dog, he dropped his meat and jumped to the attack. His piece of meat fell in the water and was carried away by the current. And so the dog lost both what he had and what he didn't have.
In itself an amusing story, we know nevertheless that one of the purposes of this fable of Aesop--a Greek storyteller of the 6th century B.C.--is to teach a point about the dangers of greed and the importance of being happy with what we have. Although those points are not literally or explicitly made in the story, they are embedded in its symbolism. In this story, the animal and his actions are not to be taken literally but instead are to be understood as symbolic representations of certain kinds of human character and behavior. An important guide in literary study is the idea that one must always strive to go beyond the literal or the mere appearances of things and search instead for the "meat" of the story. Unlike the dog of Aesop's fable, we should not allow ourselves to be fooled by false appearances. In the reading you will do in this course, you will be engaging in a constant search for the ideas and values which, although often not explicitly mentioned in the texts, constitute the substance of literary works.
The fact that literary texts very much seek to convey a message to their audience does not mean that their authors are always fully aware of or even interested in that function of their work. Authors in effect often craft their works in very practical and almost automatic ways and do not bother asking or answering questions as to their significance. What seems most important to authors is to create a pleasing or beautiful object which somehow closely conforms to and expresses the features of an otherwise undefined inward impulse. Many authors in fact are quite hostile toward the interpretation of their works and refuse to have anything to do with it. Samuel Beckett is quoted as having said, "it's bad enough to have to write these books without talking about them too." To begin to understand this odd relation of literature to its authors, we may recall its analogy, noted by Sigmund Freud, to the relation between dreams and dreamers. Just as dreams often convey meaning and information to the dreamer in puzzling symbolic images, literature may be said to function in a similar way. The author of a literary text can be compared to a dreamer transcribing his dreams into written language. But just as a dreamer is often unaware of the meaning of his/her own dreams, writers too cannot always explain what it is that their writings mean. The writing of literature is many times an almost unconscious performance which allows for the half-veiled expression of ideas and concepts which transcend the conscious mental life or avowed intentions of authors. Dealing frequently with highly charged, emotionally loaded, dangerous, or threatening ideas and desires, dreams and literary texts constitute ways of giving 'safe' (i.e. unclear, ambiguous, and concealed) and also powerful and influential expression to materials which, for a variety of reasons, cannot or should not be fully brought into consciousness or verbal expression. Therefore, the opinions and ideas of an author about his/her own work are not necessarily the most reliable guides toward a meaningful interpretation of a text. Like a psychoanalyst and his patient, an intelligent and attentive reader may be able to understand a text better than the very person who wrote it.
Given that literature attempts to promote certain ideas, values, or ideologies, one might inquire as to their precise nature and content. All literary works are produced by specific human beings belonging to specific cultures at given historical times and occupying very definite positions within the structures and hierarchies of their societies. Not surprisingly, the ideas and values which literary works seek to promote are influenced by the history, culture and circumstances relevant to the individuals who produce them. Rather than a disinterested or idealistic endeavor, literature is a very worldly and very practical sort of activity aimed at the promotion and dissemination of cultural values and views of the world which are tightly connected to the interests of the author and of the dominant and other powers in her/his society. It should be noted of course that the relation of the author to the powers, institutions, and systems of belief of his/her time can be one of affinity, opposition, or even ambiguity. For these reasons, an understanding of literature and of particular literary texts depends not only on the isolated reading of certain individual works and the consideration of their authors's lives and their circumstances but also upon a solid knowledge and critical examination of the human history, language, and culture (including art, music, philosophy, religion, science, politics, etc.) of which literature forms part and which it represents. The study of literature is therefore an eminently interdisciplinary endeavor through which we attempt to make sense of the human experience throughout history and of the ways in which human beings represent that experience and come to an understanding of themselves and of the world around them.
An important feature of literary texts which distinguishes them from other kinds of persuasive discourse is the fact that they operate not through direct statement and explicit revelation of their contents but instead through indirect allusion, understatement, implication, and even concealment. Literary texts in effect often veil the 'truth' which they seek to convey in an attempt at enhancing its attractiveness and endowing it with a sense of mystery and transcendental value. Literature, much like modern advertisement, is often an attempt at persuasion which operates on subliminal levels and artfully instills its message by concealing it under a cover of fictional situations and devices affecting the audience on emotional, intuitive, experiential, and instinctive levels. A given story for example may seek to promote a particular view of the world not by flatly stating it but instead by constructing a set of emotionally charged and seemingly "realistic" situations leading to the almost unavoidable, but always unstated, conclusion of the story's intended moral. Literary texts thus convey meaning to their readers in ways which go far beyond the mere literal or "surface" level of signification. Indeed, literary texts distinguish themselves from other texts by the subtleties and intricacies of their many levels of meaning and by the common fact that the actual "meaning" of the text is almost always hidden and implicit in the fabric of the work's devices. Meaning in literature is therefore something that needs to be determined not merely on the basis of a face-value understanding of the words in it but through a complete evaluation of the signifying complexity of the rhetoric, figures of speech, images, symbols, allusions, connotations, suggestions, and implications of the entire text.
Given its tendency to speak about its subject indirectly, the essential mode of communication of literature may be said to be a symbolic one. A symbol may be defined in general terms as a signifier of a complex nature which always places its most important referent outside of itself. For the purposes of conveying meaning, literary texts make use of a variety of special signifying devices--known in general as figures or tropes--such as symbols, allegories, metaphors, metonymies, similes, paradoxes, ironies, etc. Although each literary device has a name and a definition, it is not so important to know what they are called so much as to understand that, in general, symbolic figures make indirect references and create semi-invisible chains of association between different sets of images, concepts, and ideas. The associative logic that governs the behavior of those chains of meaning, however, is not always fixed or consistent and often varies widely from text to text and even within a single text. A sensitive and alert reading of a particular text is therefore of paramount importance in discovering the internally-defined logic of association relevant to that text and its parts.
While the logic of association of literary texts is unstable and variable, it is almost always grounded on binary systems of distinctions and polar oppositions defined either by literary convention and/or internally within the text. Given a set of basic symbolic oppositions, connections created by symbolic figures in a text are generally governed by similarities to and differences from the basic binary parameters. Being able to perceive similarities and differences between groups of images, words, and ideas in a text is therefore the first step toward the discovery of its underlying categories and structures of symbols and ideas. Take for example a story where a cruel monster is described as having the appearance of a mountain lion and where later we find a seemingly virtuous man also compared to a mountain lion. We can begin to perceive that, although they may seem very different, the text also wants us in a way to place the man and the monster in the same category and perhaps understand that the man is also, in some mysterious sense, a cruel monster. Such a story could in a very subtle way be implying a critical comment concerning the character of its hero or even the virtues cherished in the society in which the hero lives. Often indeed under the façade of an unbelievable tale of monsters and adventures lies hidden the architecture of an entire set of values and a complex system of thought and ideas.
The Dog and the Piece of Meat
A dog carrying a piece of meat in his mouth was crossing a river when he suddenly saw his own reflection in the water. Mistaking the image for another dog, he dropped his meat and jumped to the attack. His piece of meat fell in the water and was carried away by the current. And so the dog lost both what he had and what he didn't have.
In itself an amusing story, we know nevertheless that one of the purposes of this fable of Aesop--a Greek storyteller of the 6th century B.C.--is to teach a point about the dangers of greed and the importance of being happy with what we have. Although those points are not literally or explicitly made in the story, they are embedded in its symbolism. In this story, the animal and his actions are not to be taken literally but instead are to be understood as symbolic representations of certain kinds of human character and behavior. An important guide in literary study is the idea that one must always strive to go beyond the literal or the mere appearances of things and search instead for the "meat" of the story. Unlike the dog of Aesop's fable, we should not allow ourselves to be fooled by false appearances. In the reading you will do in this course, you will be engaging in a constant search for the ideas and values which, although often not explicitly mentioned in the texts, constitute the substance of literary works.
The fact that literary texts very much seek to convey a message to their audience does not mean that their authors are always fully aware of or even interested in that function of their work. Authors in effect often craft their works in very practical and almost automatic ways and do not bother asking or answering questions as to their significance. What seems most important to authors is to create a pleasing or beautiful object which somehow closely conforms to and expresses the features of an otherwise undefined inward impulse. Many authors in fact are quite hostile toward the interpretation of their works and refuse to have anything to do with it. Samuel Beckett is quoted as having said, "it's bad enough to have to write these books without talking about them too." To begin to understand this odd relation of literature to its authors, we may recall its analogy, noted by Sigmund Freud, to the relation between dreams and dreamers. Just as dreams often convey meaning and information to the dreamer in puzzling symbolic images, literature may be said to function in a similar way. The author of a literary text can be compared to a dreamer transcribing his dreams into written language. But just as a dreamer is often unaware of the meaning of his/her own dreams, writers too cannot always explain what it is that their writings mean. The writing of literature is many times an almost unconscious performance which allows for the half-veiled expression of ideas and concepts which transcend the conscious mental life or avowed intentions of authors. Dealing frequently with highly charged, emotionally loaded, dangerous, or threatening ideas and desires, dreams and literary texts constitute ways of giving 'safe' (i.e. unclear, ambiguous, and concealed) and also powerful and influential expression to materials which, for a variety of reasons, cannot or should not be fully brought into consciousness or verbal expression. Therefore, the opinions and ideas of an author about his/her own work are not necessarily the most reliable guides toward a meaningful interpretation of a text. Like a psychoanalyst and his patient, an intelligent and attentive reader may be able to understand a text better than the very person who wrote it.
Given that literature attempts to promote certain ideas, values, or ideologies, one might inquire as to their precise nature and content. All literary works are produced by specific human beings belonging to specific cultures at given historical times and occupying very definite positions within the structures and hierarchies of their societies. Not surprisingly, the ideas and values which literary works seek to promote are influenced by the history, culture and circumstances relevant to the individuals who produce them. Rather than a disinterested or idealistic endeavor, literature is a very worldly and very practical sort of activity aimed at the promotion and dissemination of cultural values and views of the world which are tightly connected to the interests of the author and of the dominant and other powers in her/his society. It should be noted of course that the relation of the author to the powers, institutions, and systems of belief of his/her time can be one of affinity, opposition, or even ambiguity. For these reasons, an understanding of literature and of particular literary texts depends not only on the isolated reading of certain individual works and the consideration of their authors's lives and their circumstances but also upon a solid knowledge and critical examination of the human history, language, and culture (including art, music, philosophy, religion, science, politics, etc.) of which literature forms part and which it represents. The study of literature is therefore an eminently interdisciplinary endeavor through which we attempt to make sense of the human experience throughout history and of the ways in which human beings represent that experience and come to an understanding of themselves and of the world around them.
An important feature of literary texts which distinguishes them from other kinds of persuasive discourse is the fact that they operate not through direct statement and explicit revelation of their contents but instead through indirect allusion, understatement, implication, and even concealment. Literary texts in effect often veil the 'truth' which they seek to convey in an attempt at enhancing its attractiveness and endowing it with a sense of mystery and transcendental value. Literature, much like modern advertisement, is often an attempt at persuasion which operates on subliminal levels and artfully instills its message by concealing it under a cover of fictional situations and devices affecting the audience on emotional, intuitive, experiential, and instinctive levels. A given story for example may seek to promote a particular view of the world not by flatly stating it but instead by constructing a set of emotionally charged and seemingly "realistic" situations leading to the almost unavoidable, but always unstated, conclusion of the story's intended moral. Literary texts thus convey meaning to their readers in ways which go far beyond the mere literal or "surface" level of signification. Indeed, literary texts distinguish themselves from other texts by the subtleties and intricacies of their many levels of meaning and by the common fact that the actual "meaning" of the text is almost always hidden and implicit in the fabric of the work's devices. Meaning in literature is therefore something that needs to be determined not merely on the basis of a face-value understanding of the words in it but through a complete evaluation of the signifying complexity of the rhetoric, figures of speech, images, symbols, allusions, connotations, suggestions, and implications of the entire text.
Given its tendency to speak about its subject indirectly, the essential mode of communication of literature may be said to be a symbolic one. A symbol may be defined in general terms as a signifier of a complex nature which always places its most important referent outside of itself. For the purposes of conveying meaning, literary texts make use of a variety of special signifying devices--known in general as figures or tropes--such as symbols, allegories, metaphors, metonymies, similes, paradoxes, ironies, etc. Although each literary device has a name and a definition, it is not so important to know what they are called so much as to understand that, in general, symbolic figures make indirect references and create semi-invisible chains of association between different sets of images, concepts, and ideas. The associative logic that governs the behavior of those chains of meaning, however, is not always fixed or consistent and often varies widely from text to text and even within a single text. A sensitive and alert reading of a particular text is therefore of paramount importance in discovering the internally-defined logic of association relevant to that text and its parts.
While the logic of association of literary texts is unstable and variable, it is almost always grounded on binary systems of distinctions and polar oppositions defined either by literary convention and/or internally within the text. Given a set of basic symbolic oppositions, connections created by symbolic figures in a text are generally governed by similarities to and differences from the basic binary parameters. Being able to perceive similarities and differences between groups of images, words, and ideas in a text is therefore the first step toward the discovery of its underlying categories and structures of symbols and ideas. Take for example a story where a cruel monster is described as having the appearance of a mountain lion and where later we find a seemingly virtuous man also compared to a mountain lion. We can begin to perceive that, although they may seem very different, the text also wants us in a way to place the man and the monster in the same category and perhaps understand that the man is also, in some mysterious sense, a cruel monster. Such a story could in a very subtle way be implying a critical comment concerning the character of its hero or even the virtues cherished in the society in which the hero lives. Often indeed under the façade of an unbelievable tale of monsters and adventures lies hidden the architecture of an entire set of values and a complex system of thought and ideas.
Jumat, 24 Juni 2011
FOR THE LIFE YOU WANT
although stressful, but many people just love to work
Such people feel valued in their work. while working, they have friends, social life as well. workplace people feel more valued and have the ability, consequently neglected family. more and more women feel guilt and stress because of spending too much time to work, but they are hesitant to reduce their working hours.
trend in the 21st century, people expect to do anything more.
Secret deal with is: balance, peace and quiet away even though the conditions forced us to hurry. easy to say, but so difficult to implement
Rest part of our brain that sealu worrying everything
Life is full of problems, but all the pressures and failures that we face comes from the old wounds or worries about the future of our own.
Rather than surrender to fate, we must begin to realize that every minute of life should be enjoyed and celebrated.
UNTUK KEHIDUPAN YANG KAMU INGINKAN
walaupun menimbulkan stres, tapi banyak orang justru senang bekerja
orang-orang semacam itu merasa dihargai dalam pekerjaan mereka. saat bekerja, mereka memiliki teman-teman, juga kehidupan sosial. ditempat kerja orang merasa lebih dihargai dan memiliki kemampuan, akibatnya keluarga terabaikan. semakin banyak wanita merasa bersalah dan stress karena menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bekerja, namun mereka ragu untuk mengurangi jam kerja mereka.
kecenderungan di abad 21 ini, orang berharap melakukan segala sesuatu lebih banyak.
Rahasia mengatasinya adalah : keseimbangan, ketenangan dan kedamaian diri meski kondisi memaksa kita untuk tergesa-gesa. mudah diucapkan, tapi begitu sulit melaksanakannya
Istirahatkan bagian dari otak kita yang sealu mengkhawatirkan segala sesuatu
Hidup memang penuh dengan masalah, namun semua tekanan dan kegagalan yang kita hadapi berasal dari luka lama atau kekawatiran kita sendiri akan masa depan.
Dari pada menyerah pada nasib, kita harus mulai menyadari bahwa setiap menit dalam hidup harus dinikmati dan dirayakan.
Such people feel valued in their work. while working, they have friends, social life as well. workplace people feel more valued and have the ability, consequently neglected family. more and more women feel guilt and stress because of spending too much time to work, but they are hesitant to reduce their working hours.
trend in the 21st century, people expect to do anything more.
Secret deal with is: balance, peace and quiet away even though the conditions forced us to hurry. easy to say, but so difficult to implement
Rest part of our brain that sealu worrying everything
Life is full of problems, but all the pressures and failures that we face comes from the old wounds or worries about the future of our own.
Rather than surrender to fate, we must begin to realize that every minute of life should be enjoyed and celebrated.
UNTUK KEHIDUPAN YANG KAMU INGINKAN
walaupun menimbulkan stres, tapi banyak orang justru senang bekerja
orang-orang semacam itu merasa dihargai dalam pekerjaan mereka. saat bekerja, mereka memiliki teman-teman, juga kehidupan sosial. ditempat kerja orang merasa lebih dihargai dan memiliki kemampuan, akibatnya keluarga terabaikan. semakin banyak wanita merasa bersalah dan stress karena menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bekerja, namun mereka ragu untuk mengurangi jam kerja mereka.
kecenderungan di abad 21 ini, orang berharap melakukan segala sesuatu lebih banyak.
Rahasia mengatasinya adalah : keseimbangan, ketenangan dan kedamaian diri meski kondisi memaksa kita untuk tergesa-gesa. mudah diucapkan, tapi begitu sulit melaksanakannya
Istirahatkan bagian dari otak kita yang sealu mengkhawatirkan segala sesuatu
Hidup memang penuh dengan masalah, namun semua tekanan dan kegagalan yang kita hadapi berasal dari luka lama atau kekawatiran kita sendiri akan masa depan.
Dari pada menyerah pada nasib, kita harus mulai menyadari bahwa setiap menit dalam hidup harus dinikmati dan dirayakan.
Langganan:
Postingan (Atom)