Rabu, 22 Juni 2011

MASALAH SEKSUALITAS REMAJA

Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini dapat beraneka ragam, mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan, bercumbu dan bersenggama. Obyek seksual dapat berupa orang, baik sejenis maupun lawan jenis, orang dalam khayalan atau diri sendiri. Sebagian tingkah laku ini memang tidak memiliki dampak, terutama bila tidak menimbulkan dampak fisik bagi orang yang bersangkutan atau lingkungan sosial. Tetapi sebagian perilaku seksual (yang dilakukan sebelum waktunya) justru dapat memiliki dampak psikologis yang sangat serius, seperti rasa bersalah, depresi, marah dan agresi.

Sementara akibat psikososial yang timbul akibat perilaku seksual antara lain adalah ketegangan mental dan kebingungan akan peran sosial yang tiba-tiba berubah, misalnya pada kasus remaja yang hamil di luar nikah. Belum lagi tekanan dari masyarakat yang mencela dan menolak keadaan tersebut. Selain itu resiko yang lain adalah terganggunya kesehatan yang bersangkutan, resiko kelainan janin dan tingkat kematian bayi yang tinggi. Di samping itu tingkat putus sekolah remaja hamil juga sangat tinggi, hal ini disebabkan rasa malu remaja dan penolakan sekolah menerima kenyataan adanya murid yang hamil di luar nikah. Masalah ekonomi juga akan membuat permasalahan ini menjadi semakin rumit dan kompleks

Berbagai perilaku seksual pada remaja yang belum saatnya untuk melakukan hubungan seksual secara wajar antara lain dikenal sebagai :

• Masturbasi atau onani yaitu suatu kebiasaan buruk berupa manipulasi terhadap alat genital dalam rangka menyalurkan hasrat seksual untuk pemenuhan kenikmatan yang seringkali menimbulkan goncangan pribadi dan emosi.
• Berpacaran dengan berbagai perilaku seksual yang ringan seperti sentuhan, pegangan tangan sampai pada ciuman dan sentuhan-sentuhan seks yang pada dasarnya adalah keinginan untuk menikmati dan memuaskan dorongan seksual.
• Berbagai kegiatan yang mengarah pada pemuasan dorongan seksual yang pada dasarnya menunjukan tidak berhasilnya seseorang dalam mengendalikannya atau kegagalan untuk mengalihkan dorongan tersebut ke kegiatan lain yang sebenarnya masih dapat dikerjakan.

Dorongan atau hasrat untuk melakukan hubungan seksual selalu muncul pada remaja, oleh karena itu bila tidak ada penyaluran yang sesuai (menikah) maka harus dilakukan usaha untuk memberi pengertian dan pengetahuan mengenai hal tersebut.

Faktor-faktor Permasalahan Seksual Remaja

Adapun faktor-faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual pada remaja, menurut Sarlito W. Sarwono (Psikologi Remaja, 1994) adalah sebagai berikut :

• Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja. Peningkatan hormon ini menyebabkan remaja membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku tertentu.
• Penyaluran tersebut tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan, baik secara hukum oleh karena adanya undang-undang tentang perkawinan, maupun karena norma sosial yang semakin lama semakin menuntut persyaratan yang terus meningkat untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental dan lain-lain)
• Norma-norma agama yang berlaku, dimana seseorang untuk melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri memiliki kecenderungan untuk melanggar hal-hal tersebut.
• Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan melalui media massa yang dengan teknologi yang canggih (contoh; VCD, buku stenlis, photo, majalah, internet dan lain-lain) menjadi tidak terbendung lagi. remaja yang sedang mengalami periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa dilihat atau didengar dari media massa, karena pada umumnya mereka belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orang tuanya.
• Orang tua sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak, menjadikan mereka tidak terbuka pada anak, bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah ini. Adanya kecenderungan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat, sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita, sehingga kedudukan wanita semakin sejajar dengan pria.

SEX BEBAS SEBAGAI SALAH SATU CONTOH MASALAH SEKSUALITAS REMAJA

• Dampak Yang Timbul Dari Sex Bebas

 Bahaya fisik
bahaya fisik yang terjadi adalah terkena penyakit kelamin(penyakit menular sexual/PMS) dan HIV/AIDS serta bahaya kelamin dini yang tak dikehendaki. Dan penyakit ini bila tidak terobati dengan benar, dapat berakibat serius bagi kesehatan reproduksi, seperti terjadinya kemandulan, kebutaan pada bayi yang baru lahir bahkan kematian. Bagi kehamilan pada usia dini dan tidak dikehendaki akan menyebabkan terjadinya resiko kehamilan dan persalinan serta resiko pada janin seperti; panggul sempit, kontraksi rahim yang lemah, ketidak teraturan tekanan darah yang dapat berdampak pada keracunan kehamilan serta kejang-kejang yang dapat menyebabkan kematian, remaja atau calon ibu merasa tidak ingin dan tidak siap untuk hamil ia bisa saja tidak mengurus dengan baik kehamilannya, gangguan pertumbuhan orga-organ tubuh pada janin, kecacatan, dan sulit mengharapkan adanya perasaan kasih sayang yang tulus dan kuat dari ibu yang tidak menghendaki kehamilan bayi yang dilahirkannya nanti, sehingga masa depan anak mungkin saja terlantar. Mengakhiri kehamilan dengan aborsi. Dan aborsi ini dapat berdampak pada kondisi psikologis. Perasaan sedih karena kehilangan bayi, beban batin akibat timbulnya perasaan bersalah dan penyesalan yang dapat mengakibatkan depresi.

 Bahaya Perilaku dan Kejiwaan
Sex bebas akan menyebabkan terjadinya penyakit kelainan seksual berupa keinginan untuk selalu melakukan hubungan sex. Sipenderita sellau menyibukkan waktunya dengan berbagai khayalan-khayalan seksual, jima, ciuman, rangkulan, pelukan, dan bayangan-bayangan bentuk tubuh wanita luar dan dalam. Sipenderita menjadi pemalas, sulit berkonsentrasi, sering lupa, bengong, ngelamun, badan jadi kurus dan kejiwaan menjadi tidak stabil. Yang ada dipikirannya hanyalah seks dan seks serta keinginan untuk melampiaskan nafsu seksualnya. Akibatnya bila tidak mendapat teman untuk sex bebas, ia akan pergi ke tempat pelacuran (prostitusi) dan menjadi pemerkosa. Lebih ironis lagi bila ia tak menemukan orang dewasa sebagai korbannya, ia tak segan-segan memerkosa anak-anak dibawah umur bahkan nenek yang sudah uzur.

 Bahaya Sosial
Sex bebas juag akan menyebabkan seseorang tidak lagi berpikir untuk membentuk keluarga, mempunyai anak, apalagi memikul sebuah tanggung jawab. Mereka hanya menginginkan hidup di atas kebebasan semu. Lebih parah lagi seorang wanita yang melakukan sex bebas pada akhirnya akan terjerumus ke dalam lembah pelacuran dan prostitusi.
Anak yang terlanjur terlahir akibat sex bebas (perzinahan) tidak mendapatkan cinta kasih dari ayahnya dan kelembutan belainan ibunya. Ia tidak akan mendapat perhatian dan pendidikan yang cukup. Setelah ia tahu bahwa ia terlahir akibat perzinahan, maka kejiwaannya akan menjadi kaku dan tersisih dalam pergaulan dan sosial kemasyarakatan, bahkan tak jarang ia akan terlibat dalam masalah kriminalitas. Hal yang lebih ironis lagi adalah sering ayah dari anak yang terlahir akibat sex bebas tidak jelas lagi siapa ayahnya.
Sex bebas juga akan menyebabkan berantakannya suatu keluarga dan terputusnya tali silaturrahmi dan kekerabatan. Orang tua biasanya tidak akan perduli lagi pada anak yang telah jauh tersesat ini, sebaliknya seorang remaja yang merasa tidak dipedulikan lagi oleh orang tuanya akan semakin nekad, membangkang dan tidak patuh lagi pada orang tua. Ia juga akan terlibat konfrontasi dengan sanak saudara lainnya. Hal ini pada akhirnya dapat menimbulkan rasa frustasi dan kecewa serta dendam tak kesudahan terhadap anggota keluarga sendiri.

 Bahaya Perekonomian
Sex bebas akan melemahkan perekonomian si pelaku karena menurunnya produktivitas si pelaku akibat kondisi fisik dan mental yang menurun, penghamburan harta untuk memenuhi keinginan sex bebasnya. Disamping itu sipelaku juga akan berupaya mendapatkan harta dan uang dengan menghalalkan segala cara termasuk dari jalan yang haram dan keji seperti korupsi, menipu, judi, bisnis minuman keras dan narkoba dan lain sebagainya.

2. Penanggulangan Masalah Sex Bebas Pada Remaja

Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah

 Suatu solusi untuk mengatasi kurangnya pemahaman remaja terhadap masalah seksualitas ini yaitu dengan memasukkan informasi kesehatan reproduksi remaja ke dalam kurikulum di sekolah. Dalam hal ini akan terjadi Pro dan kontra. Kelompok pro menyatakan perlu informasi mengenai kesehatan reproduksi disampaikan pada murid karena diharapkan bisa menjadi benteng remaja dalam mencegah perbuatan free seks. Sedangkan kelompok yang kontra khawatir, kalau informasi itu disampaikan pada remaja, malah memicu remaja untuk meniru atau bahkan mempraktikkan free seks tersebut. Informasi dan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja seperti itu sedikit banyak diharapkan bisa menjawab tantangan remaja di era sekarang yang kian berat. Jika dulu remaja mengalami fase dewasa lebih lambat dan langsung menikah dini, kini remaja mengalami fase dewasa lebih cepat lantaran faktor gizi dan lainnya, tapi menikahnya lebih tua. Oleh sebab itu, semestinya diajarkan bagaimana menurunkan libido seksual mereka dengan membuang energi yang berlebihan. Solusi yang dapat dilakukan dapat dengan menambah aktivitas mereka misalnyal memperbanyak kegiatan ekstra di luar bidang studi, memperkuat iman dan memberikan bekal budi pekerti yang cukup matang lewat pendidikan. Memang penanaman sikap dan nilai semacam ini memerlukan waktu dan proses yang panjang, di samping kerja sama yang baik dari orangtua, guru maupun lingkungan di sekitar remaja itu sendiri. Beberapa tips untuk orangtua agar anak dan remaja tak sungkan berkomunikasi tentang seks:
 Ubah cara berpikir, bahwa makna pendidikan seks itu sangat luas, tidak hanya berkisar masalah jenis kelamin dan hubungan seksual. Tapi di dalamnya ada perkembangan seluruh tubuh manusia, hubungan antar manusia (antar keluarga, teman, pacar dan perkawinan), kemampuan personal (termasuk di dalamnya tentang nilai, komunikasi, negosisasi dan pengambilan keputusan); perilaku seksual, kesehatan seksual (meliputi kontrasepsi, pencegahari Infeksi Menular Seksual (IMS), HIV/AIDS, aborsi dan kekerasan seksual), serta budaya dan masyarakat (tentang jerider, seksualitas dan agama).
 Mengajarkan tentang pendidikan seks sejak dini. Seperti saat anda mulai mengajari “ini hidung”, atau “ini mulut”, maka pada saat itulah anda mengajarinya “ini penis” atau “ini vulva’ . Jangan menggunakan istilah-istilah yang tidak tepat (misalnya “nenen” untuk mengganti kata payudara atau yang lainnya), karena dengan demikian tanpa sengaja kita telah membuat dikotomi, antara organ yang biasa dan organ yang “jorok” atau tabu atau negatif. Karena persepsi tentang bagian tubuh yang keliru akan berdampak negatif bagi anak di masa yang akan datang.
 Manfaatkan “Golden Moments”, misalnya saat sedang menonton televisi yang sedang menayangkan kasus perkosaan, saat sedang melakukan aktivitas berdua (masak, membereskan tempat tidur), dan lain-lain.
 Mendengarkan dengan sungguh-sungguh apa yang diucapkan anak, pahami pikiran dan perasaan mereka. Dengan demikian mereka akan merasa diterima, jika sudah merasa diterima, mereka akan membuka diri, percaya dan mudah diajak kerja sama.
 Jangan menceramahi. Anak umumnya tidak suka diceramahi. Karena pada saat kita menceramahi seseorang, biasanya kita “menempatkan” diri kita lebih tinggi darinya. Bukan dengan cara ini kita bisa berkomunikasi dengan mereka.
 Gunakan istilah yang tepat, sesuai dengan usianya. Misalnya saja kalau anak anda sudah beranjak remaja, maka gunakanlah bahasa gaul yang biasa digunakan remaja, sehingga anak tidak merasa sungkan menanggapi pembicaraan anda.
 Gunakan pendekatan agama. Kita harus meyakini bahwa segala masalah dan persoalan di dunia ini harus diselesaikan dengan nilai-nilai agama. Karena nilai-nilai agama tidak akan pemah berubah sampai kapan pun. Anak-anak juga harus diajak mempraktekkan ajaran agarna dalam kehidupan sehari-hari. Hasil yang ingin dicapai dari penyebaran informasi masalah seksualitas pada remaja adalah untuk membentuk sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai masalah seksualitas dan proses reproduksi. Peranan orangtua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan altematif jawaban dari hal-hal yang dipertanyakan oleh putra-putri remajanya. Orangtua yang tidak mampu memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikap kaku akan membuat sang remaja tambah bingung. Remaja tersebut akan mencari jawaban di luar lingkaran orangtua dan nilai yang dianutnya. Ini bisa menjadi berbahaya jika “lingkungan baru” memberi jawaban yang tidak diinginkan atau bertentangan dengan yang diberikan oleh orangtua. Konflik dengan orangtua mungkin akan mulai menajam. Sebaliknya, orangtua yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban dan altenatif supaya remaja itu bisa berpikir lebih jauh dan memilih yang terbaik.
Bekal iman, pendidikan, pergaulan yang sehat, serta hubungan yang mesra antara orangtua dengan anak serta keterbukaan dalam keluarga merupakan bekal yang amat berharga bagi remaja agar mereka dapat meniti kehidupan dengan selamat.
 Mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat
Tekunilah yang bermanfaat untuk para remaja. Seorang remaja harus mengetahui bagaimana ia menghabiskan waktunya dan mengisi waktu kosongnya. Banyak sekali hal-hal yang dapat dilakukan oleh seorang remaja untuk mengisi waktu kosongnya, bisa dengan olahraga, rekreasi, membaca buku yang berfaidah, membuat kerajinan tangan, menghadiri seminar, mengikuti perlombaan dan lain-lain aktifitas yang bermanfaat.
 Menjauhi dan menghindari media massa yang buruk
Media massa merupakan salah satu faktor yang ”ikut” bertanggung jawab terhadap menjamurnya seks bebas. Banyak acara-acara ditelevisi dan pemberitaan di koran dan majalah yang mengumbar nafsu seks, gambar-gambar yang seronok, iklan-iklan yang berbau ”pornografi” yang turut memperburuk moral para remaja dan merangsang remaja untuk melakukan seks bebas. Untuk itu para remaja perlu memilah-milah berita yang akan dibaca dan acara televisi yang akan ditontonnya.
 Menggunakan cara-cara medis
Untuk mengendalikan nafsu seksual dapat diupayakan cara-cara medis sebagai berikut:
• Sering mandi air dingin di musim panas
• memperbanyak olahraga dan latihan fisik
• Menjauhi makanan yang mengandung merica dan rempah-rempah karena mempunyai sifat merangsang
• Tidak terlalu banyak mengkonsumsi semampunya minuman perangsang saraf seperti kopi
• Tidak terlalu banyak mengkonsumsi daging merah dan telur

5 komentar:

  1. Jika ada situs yang terbaik kenapa pilih yang lain? mari bergabung bersama kami di intanqq ^^

    7 game dalam 1 ID
    Game yang di sediakan oleh intanqq:
    * Sakong (New Game)
    * Bandar Poker (New Game)
    * BandarQ (Hot Game)
    * Poker
    * Domino
    * Capsa Online
    * AduQ

    Kelebihan:
    * Minimal Depo dan WD Rp 15.000
    * Proses dana cepat
    * Bonus cashback harian 0,3%
    * Bonus extra cashback
    * Bonus referal 10% + 10%
    * No robot

    Kami tunggu kehadirannya ^^

    Pin BBM: 2AD20246

    BalasHapus
  2. Jual Obat Aborsi Sulawesi
    Jual Obat Aborsi Pekanbaru Riau
    Jual Obat Aborsi Jambi
    Jual Obat Aborsi Padang
    Jual Obat Aborsi Palembang
    Jual Obat Aborsi Lampung
    Jual Obat Aborsi Sumatera
    Jual Obat Aborsi Medan
    Jual Obat Aborsi Batam
    Jual Obat Aborsi Bandung
    Jual Obat Aborsi Sidoarjo
    Jual Obat Aborsi Malang
    Jual Obat Aborsi Denpasar Bali
    Jual Obat Aborsi Surabaya
    Jual Obat Aborsi Maluku
    Jual Obat Aborsi Jakarta
    Jual Obat Aborsi Kalimantan

    BalasHapus